Prasangka-Prasangka yang Tidak Patut di Tujukan Kepada Allah

Prasangka-Prasangka yang Tidak Patut di Tujukan Kepada Allah
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di Tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka tidak terangkan kepadamu, mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu  (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) disini.’ Katakanlah, ‘Sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah mentakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali-Imran: 154).

Dan Allah Ta’ala berfirman, “Mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk.” (Al-Fath: 6).

Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata tentang ayat pertama,
“Prasangka buruk ini ditafsirkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menolong rasulNya shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa perkaranya akan kandas. Ia juga ditafsirkan bahwa apa yang menimpanya bukan dengan takdir Allah dan hikmahNya. Jadi, ia ditafsirkan dengan pengingkaran terhadap hikmah dan takdir Allah, serta pengingkaran bahwa agama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam akan sempurna dan Allah akan memenangkan agama ini seluruhnya. Inilah prasangka buruk,  prasangka orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang disebutkan didalam surat Al-Fath. Ini merupakan prasangka buruk, sebab ia adalah prasangka yang tidak patut  dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak patut dengan hikmahNya, pujianNya dan janjiNya yang benar. Barangsiapa berprasangka kepada Allah akan memberi kemenangan kepada kebatilan atas kebenaran, sehingga kebatilan berkuasa terus menerus dan kebenaran terkikis karenanya, atau dia mengingkari bahwa apa yang terjadi bukan dengan qada’ dan qadarNya, atau dia mengingkari bahwa takdirNya adalah karena suatu hikmah yang Dia patut dipuji karenanya, bahkan dia menyatakan bahwa hal itu hanyalah sekedar kehendak saja tanpa hikmah, maka itu adalah prasangka orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu, mereka akan dibakar dengan api neraka.

Kebanyakan manusia berprasangka buruk terhadap Allah ‘Azza wa jalla, baik dalam perkara yang berkenaan dengan mereka sendiri ataupun dalam perkara yang berkaitan dengan oranglain. Tidak selamat darinya kecuali orang yang mengetahui Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, tuntunan hikmah dan pujianNya. Oleh karena itu, hendaknya orang yang berakal yang menginginkan kebaikan untuk dirinya memperhatikan hal ini hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan beristighfar kepadaNya dari prasangka buruknya kepada RabbNya. Seandainya kamu selidiki seseorang, niscaya kamu mendapati pada dirinya penentang terhadap takdir dan celaan kepadanya, dengan menyatakan bahwa semestinya begini-begini. Ada yang memiliki porsi besar, ada yang memiliki porsi sedikit. Periksalah dirimu sendiri, apakah kamu telah selamat dari sikap tersebut?

Jika kamu selamat darinya maka kamu selamat dari malapetaka besar
Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-sekali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangka itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 12).

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam konteks pembahasan tentang apa yang terjadi di perang Uhud dan pelajaran yang bisa dipetik darinya. (Lihat Zad al-Ma’ad, 2/103-106 dan beliau juga menjelaskan di Ighatsah al-Lahfan).

Ini adalah prasangka buruk, prasangka jahiliyah –yakni dinisbatkan kepada orang-orang jahil- prasangka tidak benar, karena ia adalah prasangka yang tidak layak dengan Nama-nama Allah yang baik dan Sifat-sifatNya yang tinggi, serta DzatNya yang terlepas dari segala aib dan keburukan, lain halnya dengan apa yang patut dengan hikmahNya, pujianNya dan keesaanNya dalam Rububiyah dan UluhiyahNya, apa yang patut dengan janjiNya yang benar yang tidak Dia selisihi, patut dengan kalimatNya yang telah ditetapkan untuk Rasul-rasulNya bahwa Dia menolong mereka dan tidak membiarkan mereka, dan bahwa bala tentaraNya adalah orang-orang yang menang. Barangsiapa berprasangka buruk kepada Allah bahwa Dia tidak menolong RasulNya, tidak menyempurnakan urusanNya, tidak mendukung bala tentaraNya, tidak meninggikan mereka, tidak memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka, tidak menolong agamaNya dan KitabNya, dan bahwa Allah akan memenangkan syirik diatas Tauhid, dan kebatilan diatas kebenaran secara langgeng, dimana tauhid dan kebenaran  menjadi sirna secara total tidak akan tegak lagi untuk selama-lamanya, maka dia telah berprasangka buruk kepada Allah kepada apa yang tidak patut  dengan kebesaranNya, keagunganNya, kesempurnaanNya, dan sifat-sifatNya, karena pujianNya, kemuliaanNya, hikmahNya dan ketuhananNya menolak hal itu dan tidak mungkin membuat bala tentaraNya dan golonganNya kalah, hikmahNya menolak memberikan kemenangan yang langgeng dan keunggulan yang abadi kepada musuh-musuhNya, orang-orang musyrikin yang mempersekutukanNya.

Barangsiapa berprasangka demikian kepada Allah, maka dia tidak mengenal Alllah, tidak mengenal Nama-namaNya, tidak mengenal sifat-sifat dan kesempurnaanNya. Demikian pula barangsiapa yang mengingkari bahwa hl itu terjadi dengan qadha’ dan qadarNya, maka dia tidak mengenalNya, tidak mengenal Rububiyah, kerajaan dan keagunganNya. Demikian pula siapa yang mengingkari bahwa Dia menakdirkan sesuatu karena suatu hikmah yang mendalam dan tujuan yang terpuji yang dengannya Dia berhak dipuji, bahkan prasangka bahwa apa yang terjadi hanya sekehendak semata tanpa ada hikmah dan tujuan.

TakdirNya tidak akan keluar dari hikmahNya, karena ia membawa kepada apa yang Dia cintai meskipun pada awalnya sesuatu yang dibenci, Dia tidak menakdirkannya secara sia-sia Dia tidak menghendakinya karena main-main dan Dia tidak menciptakannya secara batil. “Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27).

Kebanyakan manusia berprasangka buruk terhadap Allah secara tidak benar, baik dalam perkara yang berkenaan dengan mereka sendiri ataupun dalam perkara yang berkaitan dengan oranglain. Tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali siapa yang mengenal Allah, mengenal nama-nama dan sifat-sifatNya, mengenal tuntutan hikmahNya dan pujianNya. Barangsiapa berputus asa dari rahmatNya dan perputus harapan dari pertolonganNya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah mungkin mengazab wali-waliNya padahal wali-wali itu telah berbuat baik dengan ikhlas kepadaNya, bahwa Allah menyamakan mereka dengn musuh-musuhNya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan membiarkan makhlukNya begitu saja tanpa diperintah dan dilarangan, Dia tidak mengutus Rasul-rasulNya, dan tidak menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka, justru Dia membiarkan manusia begitu saja seperti hewan ternak, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan membangkitkan manusia setelah mati untuk memberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka, baik berupa pahala atau siksaan dii akhirat, dimana pelaku kejahatan dibalas sesuai dengan kejahatannya, dan Dia menjelaskan kepada makhlukNya hakikat dari apa yang mereka perselisihkan dan menunjukan kepada seluruh alam akan kebenaranNya dan kebenaran rasul-rasulNya, dan bahwa musuh-musuhNya adalah orang-orang yang berdusta, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan menyia-nyiakan amal shalih yang dilakukan oleh manusia dengan ihlas karena WajahNya yang mulia sesuai dengan perintahNya, dan membatalkan amal tersebut tanpa sebab dari seorang hamba, bahwa Dia akan menghukumnya karena sesuatu dimana dia tidak berperan  apapun padanya, tidak berikhtiar apapun padanya, tidak memiliki kodrat dan keinginan apapun padanya atas kejadiannya, justru Dia menghukum karena perbuatanNya ta’ala atau  dia mengira bahwa Allah mungkin mendukung musuh-mushuhNya yang berdusta atas namaNya dengan mukjizat-mukjizat yang dengannya Allah mendukung nabi-nabiNya dan rasul-rasulNya, Dia memberikannya kepada musuh-musuhNya untuk menyesatkan hamba-hambaNya, bahwa segala sesuatu adalah baik bagiNya sampai-sampai mengazab orang yang telah menghabiskan umurnya untuk mentaatiNya, lalu Dia menjadikannya kekal didalam neraka, diderajat paling bawah, kemudian sebaliknya Dia memberi nikmat kepada orang yang telah menghabiskan umurnya untuk memusuhiNya, memusuhi rasul-rasulNya dan agamaNya, lalu Dia mengangkatnya ke derajat tertinggi, dan kedua perkara ini bagiNya adalah sama baiknya, dan tidak diketahui tidak terjadinya sesuatu  serta terjadinya sesuatu yang lain kecuali dengan kabar yang benar, karena jika tidak maka akan tidak bisa menetapkan mana yang buruk dan mana yang baik, maka dia berprasangka buruk kepada Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Dia mengabarkan tentang DiriNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dengan perkataan yang zahirnya adalah batil, mengandung tasybih dan tamtsil, dan menyangka bahwa Dia mengabaikan kebenaran dalam hal ini, dimana Dia tidak menyampaikannya, akan tetapi hanya memberikan simbol-simbol dan isyarat-isyarat yang samar dan tidak dijelaskan, justru Dia selalu menyampaikan melalui tasybih, tamtsil dan kebatilan, Dia ingin agar makhlukNya mengerahkan akal, pikiran dan kekuatan mereka untuk mentahrif dan menakwilkan firmanNya dari makna yang sebenarnya dan mereka mencari-cari dari sisi-sisi kemungkinan yang buruk dan takwil-takwil yang lebih dekat kepada teka-teki dan kontradiksi daripada kepada penjelasan dan keterangan, Dia menyerahkan kepada akal dan pendapat mereka dari memahami nama-nama dan sifat-sifatNya, bukan kepada kitabNya, bahkan menyangka bahwa Dia ingin agar mereka tidak membawa firmanNya kepada pemahaman yang telah mereka ketahui dari pembicaraan mereka dan bahasa mereka, padahal Dia mampu menyampaikan kebenaran secara nyata dan membebaskan mereka dari kata-kata yang menjerumuskan mereka kedalam keyakinan batil, namun Dia tidak melakukan, justru Dia membawa mereka menyelisihi jalan petunjuk yang jelas, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Karena jika Dia berkata, Allah tidak mampu mengucapkan kebenaran dengan lafazh yang jelas yang dia dan pendahulunya gunakan, maka dia telah mengira bahwa kemampuan Allah lemah, jika dia berkata bahwa Allah mampu namun Dia tidak menjelaskan, Dia tidak memberi penjelasan dan mengungkapkan kebenaran dengan nyata, sebaliknya Dia memilih penjelasan yang membingungkan, menjerumuskan kedalam kebatilan yang mustahil dan keyakinan yang rusak, maka dia telah berprasangka buruk terhadap hikmah dan rahmatNya.

Barangsiapa menyangka bahwa dirinya dan pendahulunya mengungkapkan kebenaran secara jelas daripada Allah dan RasulNya, dan bahwa hidayah dan kebenaran terdapat pada perkataan dan ungkapan mereka, adapun yang zahir dari firman Allah menunjukkan tasybih, tamtsil dan kesesatan, sedangkan perkataan orang-orang bingung lagi ngawur adalah petunjuk dan kebenaran, maka hal ini merupakan seburuk-buruk sangkaan terhadap Allah.

Mereka sama termasuk orang-orang yang berprasangka buruk terhadap Rabb mereka, prasangka yang tidak benar, yang merupakan prasangka jahiliyah.

Barangsiapa menyangka ada sesuatu dalam kerajaan Allah yang tidak Dia kehendaki dan Dia tidak kuasa mengadakannya dan menciptakannya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mampu berbuat apa-apa dari zaman azali sampai seterusnya, Dia tidak disifati dengan kemampuan untuk berbuat, kemudian Dia menjadi mampu setelah sebelumnya Dia tidak mampu, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mendengar, tidak melihat, tidak mengetahui yang ada, tidak mengetahui jumlah langit dan bintang-bintang, tidak mengetahui jumlah Bani Adam, gerakan dan perbuatan mereka, tidak mengetahui apapun dari yang ada dengan pasti maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mempunyai pendengaran, tidak mempunyai penglihatan, tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai keinginan, bahwa Dia tidak berbicara kepada seorangpun dari makhlukNya, tidak berbicara selama-lamanya, tidak berkata, tidak berfirman, tidak memerintahkan dan tidak melarang, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak diatas langit, diatas ArasyNya, terpisah dari makhlukNya, bahwa nisbat Dzatnya kepada ArasyNya adalah seperti nisbatNya kepada derajat yang terendah dan kepada tempat-tempat yang tidak patut disebutkan, bahwa Dia adalah yang terendah sebagaimana Dia adalah yang tertinggi, bahwa siapa yang berkata, Mahasuci Tuhanku Yang Maharendah adalah sama dengan orang yang berkata, Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi, maka dia telah berprasangka terhadapNya dengan sangkaan yang paling buruk dan paling jelek.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah mencintai kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, dan bahwa Dia mencintai kerusakan seperti Dia mencintai keimanan, kebaikan, ketaatan, dan perbaikan, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Dia tidak mencintai dan tidak meridhai, tidak marah dan tidak murka, tidak membela dan memusuhi, tidak mendekatkan diri kepada makhlukNya dan tidak ada makhlukNya yeng mendekatkan kepadaNya, bahwa dzat-dzat setan dalam perkara kedekatan kepada Allah adalah sama dengan dzat-dzat para malaikat yang dekat dan para wali yang beruntung, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah menyamakan dua perkara  yang saling bertentangan, atau Allah membedakan antara dua perkara yang sama dari segala sisi, atau Allah membatalkan ketaatan-ketaatan sepanjang usia yang dilakukan dengan ikhlas dan benar hanya karena satu dosa besar yang dilakukan setelahnya, lalu Allah menjadikan pelaku ketaatan-ketaatan tersebut kekal di neraka jahanam gara-gara satu dosa besar selama-lamanya, Allah menghapuskan seluruh ketaatannya dan mejadikannya kekal dalam azab seperti orang yang tidak pernah beriman sekejap matapun dan menghabiskan seluruh umurnya untuk melakukan perkara-perkara yang Dia murkai dan memusuhi rasul-rasulNya dan agamaNya, maka dia telah berprasangka buruk terhadapNya.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu, atau ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisiNya tanpa izinNya, atau antara Allah dan makhlukNya terdapat para perantara yang dapat menyampaikan hajat-hajat mereka kepadaNya, dan Dia menugaskan para waliNya kepada para hambaNya supaya mereka mendekatkan diri dan berhubungan kepadaNya melalui wali-wali itu, mereka menjadikan wali-wali itu sebagai perantara antara Allah dengan mereka, lalu mereka berdoa, takut, dan berharap kepada wali-wali itu, maka dia telah berprasangka  terhadap Allah dengan sangkaan yang paling buruk dan paling jelek.

Barangsiapa menyangka bahwa seseorang bisa mendapatkan apa yang ada disisi Allah dengan bermaksiat dan mendurhakaiNya sebagaimana ia diraih dengan ketaatan dan ibadah kepadaNya, maka dia telah berprasangka terhadapNya dengan sangkaan yang menyelisihi hikmahNya,  menyelisihi hikmahNya, menyelisihi tuntunan nama-namaNya dan sifat-sifatNya, dan itu adalah prasangka yang buruk.

Barangsiapa menyangka bahwa siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya, atau siapa yang melakukan sesuatu karenaNya maka Allah tidak akan memberinya apa yang lebih baik darinya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah murka kepada hambaNya, menghukumnya dan tidak memberinya kebaikan tanpa dosa dan sebab dari hamba tersebut, kecuali hanya karena sekedar kehendakNya dan keinginanNya semata, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Barangsiapa menyangka bahwa jika seorang hamba takut dan berharap kepadaNya dengan sebenar-benarnya, merendahkan diri kepadaNya, memohon kepadaNya, meminta pertolongan kepadaNya, bertawakal kepadaNya, kemudia Allah akan menyia-nyiakannya dan tidak mengabulkan apa yang dia minta, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah, menyangka sesuatu terhadapNya yang tidak patut untukNya.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan memberi pahala kepada  hamba jika dia bermaksiat kepadaNya sebagaimana Dia memberinya pahala jika hamba tersebut menaatiNya dan meminta hal itu didalam doanya, maka dia telah berprasangka terhadap Allah dengan sangkaan yang menyelisihi hikmah dan pujianNya, menyelisihi apa yang patut bagiNya dan apa yang tidak dilakukanNya.

Barangsiapa menyangka terhadap Allah bahwa jika seorang hamba membuatNya marah dan murka dan dia tenggelam dalam kemaksiatan kepadaNya, kemudian dia menjadikan penolong-penolong selainNya, dia berdoa kepada selainNya, kepada malaikat atau manusia yang hidup atau mati, dengan itu dia berharap meraih manfaat disisi Allah dan selamat dari azabNya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.

Kebanyakan manusia, bahkan seluruhnya, kecuali orang dikehendaki kebaikan oleh Allah, berprasangka yang tidak benar dan buruk, dimana kebanyakan Bani Adam meyakini bahwa haknya dikurangi dan bagiannya dizhalimi, bahwa dirinya berhak lebih dari apa yang Allah berikan dan Allah kehendaki. Kondisinya berkata, Rabbku telah berbuat aniaya terhadapku, dia menghalangiku untuk mendapatkan apa yang menjadi hakku, sementara jiwanya mengakui hal itu, sedang dengan lisannya dia mengingkarinya dan tidak berani mengungkapkannya secara terbuka. Barangsiapa mendeteksi dirinya sendiri dan menyelam untuk mengungkap sisi-sisinya, niscaya dia akan mendapati hal itu akan tersembunyi didalam dirinya bagaikan api dalam kayu pemantik, nyalakanlah kayu pemantik siapa yang kamu kehendaki, niscaya percikannya akan membuka apa yang tersimpan didalamnya kepadamu. Seandainya kamu mendeteksi seseorang, niscaya kamu akan mendapati sikap menentang dan menyalahkan takdir, serta mencela dan mencemoohnya dengan mengatakan, “semestinya takdir itu begini dan begini”, ada yang memiliki porsi yang besar, ada yang memiliki porsi yang sedikit. Deteksilah dirimu sendiri, apakah kamu telah selamat?

Jika kamu selamat darinya maka kamu selamat dari petaka besar
Jika tidak maka aku tidak mengiramu akan selamat

Hendaknya orang yang berakal, yang menginginkan kebaikan untuk dirinya, memperhatikan hal ini, hendaknya dia bertaubat kepada Allah beristighfar kepada Allah setiap saat dari prasangka buruknya terhadap Rabbnya. Hendaknya dia berprasangka buruk terhadap dirinya sendiri yang merupakan tempat segala kejelekan dan sumber segala keburukan yang tersusun dari kejahilan dan kezhaliman. Dirinya lebih pantas untuk disangka dengan sangkaan buruk daripada Allah, Hakim yang paling bijaksana, Pengadil paling adil, Penyayang paling sayang, Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, Pemilik kekayaan sempurna, Yang disucikan dari segala keburukan pada dzat, Sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan nama-namaNya. DzatNya mempunyai kesempurnaan mutlak dari segala segi.  Sifat-sifatNya juga demikian, seluruh perbuatanNya adalah kemaslahatan, hikmah, rahmat dan keadilan. Sedang nama-namaNya semuanya terpuji lagi indah...

Jangan berprasangka buruk terhadap Rabbmu
Karena Allah paling patut dengan segala kebaikan
Jangan sekalipun mengira baik terhadap dirimu
Bagaimana orang yang zhalim lagi bodoh (mengaku baik)
Katakan, wahai jiwa tempat bermuaranya segala keburukan
Apakah kamu berharap kebaikan dari mayit yang kikir
Berprasangka buruklah terhadap dirimu, niscaya
Kamu mendapatinya demikian,
Dan kebaikannya bagaikan hal mustahil
Ketakwaan dan kebaikan yang tertanam didalam jiwamu
Adalah hasil pemberian Rabb Yang Mahamulia
Bukan miliknya dan bukan darinya, akan tetapi
Karunia dari Allah ar-Rahman
Maka bersyukurlah kepada Dzat yang telah membimbingmu...
 ______


[Disalin dari Fathul Majid hal.1155-1168 edisi terjemahan Pustaka Sahifa]


QODHO DAN QODAR Karya MUHAMMAD BIN SHALEH AL-'UTSAIMIN

DOWNLOAD KITAB QODHO DAN QODAR KLIK DISINI

Syarh Nawaqidh Al-Islam (Penjelasan Pembatal KeIslaman)

Untuk Download Kitab Penjelasan Tentang Pembatal KeIslaman  Klik disini

Merutinkan Sholat Sunnah Rowatib (Membangun Rumah di Surga)

Merutinkan Sholat Sunnah Rowatib (Membangun Rumah di Surga)

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba’diyah.

Di antara tujuan disyari’atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan Sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu.
Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sanasini ketika melakukannya.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Pertama: Shalat adalah sebaikbaik amalan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

واْعلمَُوا أنََّ خَْيَر أعَْمَالكُِمُ الصَّلَُاة

“Ketahuilah, sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat.”[1]

Kedua: Akan meninggikan derajat di surga karena banyaknya shalat tathowwu’ (shalat sunnah) yang dilakukan Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampernah ditanyakan mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah. Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

إلَِّا رَفَعكَ اللهَُّ بهَِا دَرجًَة وحَطَّ عْنكَ بهَِا خَطِيَئًة بكَِْثَرِة السُّجُوِد للِهَِّ فإنِكََّ لَا تسَْجُُد للِهَِّ سَجَْدًة عليَْكَ

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu.”[2] Ini baru sekali sujud. Lantas bagaimanakah dengan banyak sujud atau banyak shalat yang dilakukan?!

Ketiga: Menutup kekurangan dalam shalat wajib. Seseorang dalam shalat lima waktunya seringkali mendapatkan kekurangan di sanasini sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

نصُِْفَها تسُْعَها ثمُُنَها سُُبُعَها سُُدسَُها خُمُسَُها رُبُعَها ثُلُثَها الَّرجُلَ ليَنَْصَِرفُ وَما كتبَِ لهَُ إلَِّا عشُْر صَلَاتهِِ إنَِّ

“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh,
sepersembilan,seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari
shalatnya.”[3]

Untuk menutup kekurangan ini, disyari’atkanlah shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أمَْ لمَِلَائكَِتهِِ وهَُو أعَْلمَُ اْنظُُروا فىِ صَلَِاة عَْبِدى أتَمَََّها أعَْمَالهِِمُ الصَّلَُاة قَالَ يقَُولُ ربنَُّا جَلَّ وَعَّز أوََّلَ مَا يحَاسَبُ الَّناسُ بهِِ يوَْمَ اْلِقياََمةِ مِنْ إنَِّ
فَِريضََتُه تطََُّوعٍ فإنِْ كَانَ لهَُ تطََُّوعٌ قالَ أتَمُِّوا لعَِْبِدى كانَ اْنَتَقصَ مْنَها شَْيًئا قالَ اْنظُُروا هَلْ لعَِْبِدى مِنْ نقََصََها فإنِْ كانتَْ تاََّمًة كُتبِتَْ لهَُ تاََّمًة وإنِْ
منْ تطََُّوعِهِ ثمَّ تْؤخَُذ الَْأعمَالُ علىَ ذاُكمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalanamalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hambaKu, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hambaKu memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hambaKu dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan.
Kemudian amalanamalan lainnya hampir sama seperti itu.”[4]

Keempat: Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka’at dalam sehari akan dibangunkan rumah di
surga.

Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« منْ صَلىَّ اْثَنَتىْ عشَْرَة رْكَعًة فىِ يوٍَْم وليَْلةٍَ بنىَِ لهَُ بهِِنَّ بيَْتٌ فىِ اْلجََّنةِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam seharisemalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.”

Coba kita lihat, bagaimana keadaan para periwayat hadits ini ketika mendengar hadits tersebut. Di antara periwayat hadits di atas adalah An Nu’man bin Salim, ‘Amr bin Aws, ‘Ambasah bin Abi Sufyan dan Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung.
Ummu Habibah mengatakan, Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ”
‘Ambasah mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.”
‘Amr bin Aws mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.”
An Nu’man bin Salim mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.”[5]
Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وََرْكَعَتْينِ وَرْكَعَتْينِ بعََْدهَا وَرْكَعَتْينِ بعََْد اْلمَْغِربِ لهَُ بيًَْتا فىِ اْلجََّنةِ أرَْبعَِ رَكَعاتٍ قْبلَ الظُّْهِر ثاَبرََ عَلىَ ثنَِْتىْ عَشَْرَة رْكَعًة مِنَ السَُّّنةِ بنََى اللهَُّ منْ
بعََْد اْلِعشَاِء وَرْكَعَتْينِ قْبلَ اْلَفجِْر

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”[6]

Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at setiap harinya.[7]
Dua belas raka’at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah: [1] empat raka’at[8] sebelum Zhuhur, [2] dua raka’at sesudah Zhuhur, [3] dua raka’at sesudah Maghrib, [4] dua raka’at sesudah ‘Isya’, [5] dua raka’at sebelum Shubuh.
Shalat Qobliyah Shubuh Jangan Sampai Ditinggalkan
Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Di antaranya disebutkan dalam hadits ‘Aisyah,

رْكَعَتا اْلَفجِْر خَْيٌر منَ الُّدْنياَ وَما فيَِها

“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”[9]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampaisampai
ketika safar pun beliau terus merutinkannya. ‘Aisyah mengatakan,

أشَََّد مْنُه تعََاهًُدا علىَ رْكَعَتىِ اْلَفجِْر يكَُنِ الَّنبىُِّ صلى
لله عليه وسلم َعلىَ
شَىٍْء منَ الَّنَوافلِِ لمَْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.”[10]

Ibnul Qayyim mengatakan,“Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib Qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”[11]

Tiga Model untuk Shalat Rawatib Zhuhur Dalam melakukan shalat sunnah rawatib zhuhur ada tiga model yang bisa dilakukan.

Pertama: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Kedua: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah zhuhur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

منْ حَاَفظَ علىَ أرَْبعَِ رَكَعاتٍ قْبلَ الظُّْهِر وأرَْبعٍَ بعََْدهَا حَُرمَ علىَ الَّناِر

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka.”[12]

Ketiga: Dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

اْلمَْغِربِ فىِ بيَْتهِِ ٬ وَرْكَعَتْينِ بعََْد قْبلَ الظُّْهِر ٬ وَرْكَعَتْينِ بعََْدهَا ٬ وَرْكَعَتْينِ بعََْد منَ الَّنبىِِّ صلى
لله عليه وسلم عَشَْر
رَكَعاتٍ رْكَعَتْينِ فظِْتُ
٬ وَرْكَعَتْينِ قْبلَ صَلَِاة الصُّْبحِ اْلِعشَاِء فىِ بيَْتهِِ

“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.”[13]

Lebih Bagus Menjalankan Shalat Sunnah di Rumah
Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan setiap shalat sunnah di rumah, kecuali jika memang ada hajat atau faktor lain yang mendorong untuk melakukannya di masjid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فإنَِّ أفَْضَلَ الصَّلَِاة صَلَُاة اْلمَْرِء فىِ بيَْتهِِ إلَِّا اْلمَْكُتوبةََ

“Sesungguhnya seutamautama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya selain shalat wajib.”[15]

Di antara keutamaan lainnya mengerjakan shalat di rumah, apalagi ketika baru datang dari masjid atau akan pergi ke masjid terdapat dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”[16]
Kontinu dalam Amalan itu Lebih Baik
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أحََبُّ الَْأعمَالِ إلِىَ اللهَِّ تعََالىَ أدََْوُمَها وإنِْ قلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [17]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan  memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[18]

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan,”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”[19]

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai shalat sunnah rawatib. Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa merutinkannya. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya segala kebaikan menjadi sempurna.
***


[1] HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] HR. Muslim no. 488.
[3] HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[4] HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[5] HR. Muslim no. 728.
[6] HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7] Lihat Bughyatul Mutathowwi’fii Sholati At Tathowwu’.
[8] Dikerjakan dua raka’at salam dan dua raka’at salam.
[9] HR. Muslim no. 725.
[10] HR. Bukhari no. 1169.
[11] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. [Tahqiq:Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth]
[12] HR.Abu Daud no. 1269, An Nasai
no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[13] HR. Bukhari no. 1180.
[14] Shahih Fiqh Sunnah, 1/381.
[15] HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.
[16] HR. Al Bazzar. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no.
1323.
[17] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.
[18] Syarh Muslim, An Nawawi, 6/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, tahun 1392 H.
[19] Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah Tuntunan Shalat Sunnah Qobliyah Ashar

Ahmad Zainuddin, , Dammam KSA.

KITAB AL-BARBAHARI SYARHUSUNNAH


SYARHUSUNNAH

 - Al-Barbahari
Download

IQAMAT SHALAT SUBUH MENURUT PARA ULAMA

IQAMAT SHALAT SUBUH MENURUT PARA ULAMA



Berikut ini adalah iqamat shalat subuh yang benar atau menurut sebagaian yang paling
afdhal (paling besar pahalanya) berdasarkan kebanggaan, wasiat, fatwa, nasehat dan peringatan
para ulama:

1. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (20 menit lebih dari Taqwim Mesir)
2. Syaikh Dr.Taqiyyuddin al-Hilali (30 menit dari Taqwim al-Maghribi)
3. Syaikh Nasiruddin Al-Albani (25 menit dari Taqwim Yordan)
4. Syaikh Muhammad ibn Utsaimin (25 menit dari Taqwim Ummul Qura)
5. Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz (25 menit dari Taqwim Ummul Qura)
6. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan (20-30 menit dari Taqwim Ummul Qura)
7. Syaikh Salim ibn Ied al-Hilali (20 menit lebih dari Taqwim Yordan)
8. Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nasr (24 menit lebih dari Taqwim Yordan)
9. Syaikh Dr. Masyhur Hasan Salman (24 menit lebih dari Taqwim Yordan)
10. Syaikh Ali Hasan Al-Halabi (24 menit lebih dari Taqwim Yordan)
11. Syaikh Abdullah ibn Jibrin (20 menit lebih dari Taqwim Ummul Qura)
12. Syaikh Musthafa al-Adawi (20 menit lebih dari Taqwim Mesir)
13. Syaikh Dr. Abdul Karim al-Khudhair (20 - 30 lebih menit dari taqwim Ummul Qura)
14. Syaikh Abdurrahman al-Barrak (15- 20 menit dari Taqwim Ummul Qura)
15. Syaikh Dr. Sa'ad ibn Turki al-Khutslan (25-30 menit dari Taqwim Ummul Qura):
16. Syaikh Dr. Yasir Barhami (20 menit lebih dari taqwim Mesir)
17. Syaikh Ahmad yahya Najmi (20 menit setelah Ummul Qura)
18. Syaikh Dr. Farkus (20 menit setelah taqwim al-Jazair)
19. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid (30 menit setelah Ummul Qura)
20. Syaikh Faishal ibn Abdillah al-Fauzan (20 menit setelah Ummul Qura)
21. Syaikh Adnan al-Ar’ur (asal Suria) (20 menit setelah Ummul Qura)
22. Syaikh Abdurrahman ibn Abdillah Alu Faryan (+ 20 menit setelah Ummul Qura)
23. Syaikh Abdurrahman ibn Abdullah al-Suhaim (20-30 menit dari Ummul Qura)
24. Syaikh Muhammad Husain Ya'qub (40 menit dari taqwim Mesir)
25. Syaikh Muhammad Hassan (30 menit dari taqwim Mesir)
26. Syaikh Dr. Muhammad Abdul Maqshud (20 menit lebih dari taqwim Mesir)
27. Syaikh Dr. Sayyid Al-Arabi (13-20 menit dari taqwim Mesir)
28. Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman (25 menit setelah taqwim Mesir)
29. Dr. Abdullah Abdurrahman al-Musnid (20 menit setelah taqwim Ummul Qura)
30. Syaikh Ridha Ahmad Shamadi at-Tailandi: ( 8-15 menit dari taqwim Rabithah, -18°)

Masih ada ulama-ulama lain.
Nantikan pernyataan mereka ini selengkanpnya di situs www.qiblati.com.
Ringkasan fatwa dan pernyataan para ulama ini kupersembahkkan kepada setiap muslim,
khusunya para penanggung jawab shalat kaum muslimin (takmir/imam/muadzin) dan para
wanita yang shalat subuh di rumah.
Catatan:
Rabithah, Yordan: s=-18°; Ummul Qura s=-19° (sekarang s=-18,5°); Mesir (Afrika) =-19,5°;
Indonesia (Depag) s=-20°, dan sudah banyak yang s=-18°.
1 derajat = 4 menit (rata-rata), Indonesia 20 x 4 menit = + 80 menit (lama waktu subuh)
Seharusnya sudut subuh yang benar menurut sunnah dan observasi =15° (+ 60 menit, antara
fajar shadiq-terbitnya alis matahari)
Malang, Rabiul Awal 1431 H.

ADAB-ADAB HARI JUM'AT

ADAB-ADAB HARI JUM’AT

Oleh
Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani

1. Memperbanyak do’a dan mendekatkan diri kepada Allah, karena di hari Jum’at terdapat waktu yang mustajab

(dikabulkannya do’a). Hal ini berdasarkan hadits:

.فِیْھِ سَاعَةٌ لاَ یُوَافِقُھَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَھُوَ قَائِمٌ یُصَلِّي یَسْأَلُ للهَ تَعَالَى شَیْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِیَّاهُ وَأَشَارَ بِیَدِهِ یُقَلِّلُھَا

“Di hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR. Al-Bukhari no. 9300 dan Muslim no. 852][1]

2. Memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ یَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَیْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صلَّى للهُ عَلَیْھِ عَشْراً

“Perbanyaklah oleh kalian shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” [HR. Al-Baihaqi III/249 dari Anas Radhiyallahu anhu, sanadnya hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1407].

3. Mandi besar, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang terbagus.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ یَغْتَسِلُ رَجُلٌ یَوْمَ الْجُمُعَةِ وَیَتَطَھَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُھْرٍ وَیَدَّھِنُ مِنْ دُھْنِھِ أَوْ یَمَسُّ مِنْ طِیْبِ بَیْتِھِ ثُمَّ یَخْرُجُ فَلاَ یُفَرِّقُ بَیْنَ اثْنَیْنِ ثُمَّ یُصَلِّي مَا كُتِبَ لَھُ ثُمَّ یُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ
.اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَھُ مَا بَیْنَھُ وَبَیْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.” [HR. Al-Bukhari no. 883]

4. Membaca al-Qur-an surat al-Kahfi, berdasarkan hadits:

.مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَھْفِ یَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَھُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَیْنَ الْجُمُعَتَیْنِ

Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at.”[HR. Al-Hakim II/368 dan al-Baihaqi III/249 dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil no. 626].

5. Bersegera untuk datang lebih awal pada shalat Jum’at.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

.مَنِ اغْتَسَلَ یَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah lalu segera pergi ke masjid, maka seakan-akan berkurban dengan unta yang gemuk” [HR. Al-Bukhari no. 881, Muslim no. 850, Abu Dawud no. 351, at-Tirmidzi no.499]

6. Hendaknya mengerjakan shalat sunnah empat raka’at setelah selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:

.إِذَا صَلَّیْتُمْ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَصَلُّوْا أَرْبَعًا

“Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jum’at maka shalat (sunnah)lah empat raka’at. [HR. Muslim no. 881 (68)][2]
[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit  ustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]

_______
Footnote
[1]. Waktu itu batasnya adalah sampai dengan ‘Ashar, dan inilah pendapat Jumhur ulama yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad I/389-394, berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.یَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ یُوْجَدُ فِیْھَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ یَسْأَلُ للهَ شَیْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِیَّاهُ فَالْتَمِسُوْھَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka carilah di akhir waktu tersebut, yaitu setelah ‘Ashar.” [HR. Abu Dawud no. 1048, an-Nasa-i dalam Sunannya III/99-100 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak I/279 -penj].

[2]. Mengerjakan shalat sunnah empat raka’at setelah shalat Jum’at -dikerjakan setelah selesai berdzikir atau telah keluar dari masjid, (HR. Muslim no. 883) dapat pula dikerjakan di masjid- sebanyak dua raka’at kemudian ditambah dua raka’at lagi dikerjakan di rumah, [HR. Muslim no. 881 (68)) dan tidak boleh melakukan sunnah tersebut di tempat mengerjakan shalat jum’at. (HR. Ibnu Majah no. 1127)].
Al Lughoh 3 Download
Al Lughoh 2 Download
Al lughoh1 Download

54 Soal Jawab Aqidah




 
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu






54 Soal Jawab Aqidah








Buku ini disajikan dalam bentuk soal-jawab  tentang Aqidah dan setiap Jawabannya dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dengan dalil 1 Ayat Al-Qur’an dan 1 Hadits







1.        Kenapa Allah عزّوجلّ menciptakan kita ?

Allah menciptakan kita untuk menyembahnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Sebagaimana Firman-Nya سبحانه و تعالي:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ       

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. (Adz Dzariyat : 56)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:            

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا   

Hak Allah atas hambanya, agar supaya menyembahnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. (Muttafaqun ‘Alaih)



2.        Bagaimana caranya kita beribadah kepada Allah سبحانه و تعالي?

Kita beribadah kepada Allah عزّوجلّ sebagaimana yang diperintahkan  Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya صلي الله عليه وسلم dengan disertai niat yang ikhlash karena Allah عزّوجلّ.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :                              

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya( Al Bayyinah : 5)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ  ((أي مردود)) 

Barang siapa berbuat suatu amalan yang bukan atas perintah kami maka amalannya ditolak (HR Muslim)



3.        Apakah kita menyembah Allah عزّوجلّ dengan khouf (takut ) dan thama’ (pengharapan)?

Ya, Kita menyembah Allah عزّوجلّ dengan penuh rasa takut dan thama’(pengharapan).

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan ) ( Al ‘Araf : 56)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

أَسْأَلُ الله َالْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِهِ مِنَ النَّارِ

Saya meminta kepada Allah (agar dimasukkan) surga dan  saya berlindung kepada Allah dari neraka. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)



4.        Apa yang dimaksud dengan ihsan di dalam ibadah? 

Merasa selalu diawasi Allah عزّوجلّ saja yang selalu melihat kita.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ:

إِنَّ الله َكاَن َعَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ( An Nisa : 1)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اَلإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ الله َكَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ 

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan bila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau. (HR. Muslim)



5.        Kenapa Allah عزّوجلّ mengutus para Rasul ?

Supaya mengajak umat untuk beribadah kepada Allah عزّوجلّ saja dan tidak menjadikan sekutu baginya.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةِ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا الله َوَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ  

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat untuk menyerukan :,” Sembahlah Allah saja dan jauhi Thaghut itu,” (An Nahl : 36)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

وَ الأَنْبِيَاءُ  إِخْوَةٌ وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ - أي كُلُّ الرُّسُلِ دَعَوْا إِلىَ التَّوْحِيْدِ

Dan para Nabi itu adalah bersaudara, dan agama mereka itu adalah satu (Yaitu setiap Rasul menyeru kepada tauhid)  (Muttafaq ‘Alaih)



6.        Apa yang dimaksud dengan Tauhid Uluhiyyah ?

Mengesakan Allah عزّوجلّ dalam hal semua ibadah, seperti doa, nadzar, hukum, dan ibadah lainnya.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ

Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang hak melainkan Allah. (Muhammad: 19)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

فَلْيَكُنْ أَوَّلَ تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله  { أي إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا الله َ}

Maka hendaklah hal yang paling pertama engkau menyeru mereka kepadanya adalah (mengucapkan) syahadat bahwa tidak ada ilah yang hak melainkan Allah. (yaitu mereka mengesakan Allah) (Muttafaq ‘Alaih)



7.        Apa makna Laa Ilaha Illallah?

Tidak ada yang berhak diibadati kecuali Allah عزّوجلّ.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ:

ذَلِكَ بِأَنَّ الله َهُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْ عُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ الْبَاطِلُ

Demikianlah karena sesungguhnya Allah dialah Yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang bathil. (Luqman: 30)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُوَ كَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ الله ِحَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ   

Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan kafir terhadap apa yang disembah selain Allah maka harta dan darahnya adalah haram. (HR Muslim)



8.        Apa yang dimaksud dengan Tauhid yang berkenaan dengan  Sifat-sifat Allah عزّوجلّ ?

Menetapkan semua sifat yang telah ditetapkan oleh Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya صلي الله عليه وسلم bagi Dzat-Nya.

Sebagaimana firman-Nya عزّوجلّ :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ

Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.( Asy Syura : 11)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا  - نُزُوْلاً يَلِيْقُ بِجَلاَلِهِ - 

Rabb kita tabaaraka wa ta’alaa turun kelangit terdekat setiap malam - turun yang sesuai dengan kebesaran-Nya-. (Muttafaq ‘Alaih)






9.        Apa faidah Tauhid bagi seorang muslim ?

Agar mendapatkan petunjuk (hidayah)  di dunia ini dan mendapatkan keamanan dari adzab di akhirat kelak.

Sebagaimana firman-Nya عزّوجلّ :

اَلَّذِيْنَ آمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kedzaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Al An’am : 82)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى الله ِأَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا   

Hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. (Muttafaq ‘Alaih)



10.    Ada di manakah Allah عزّوجلّ ?

Allah عزّوجلّ di atas langit di atas ‘Arasy.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

الرَّحْمَنُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَى

Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy.(Thaha : 5)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَابًا فَهُوَ مَكْتُوْبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ 

Sesungguhnya Allah telah menulis tulisan, dan ia itu termaktub di sisi-Nya di atas ‘Arasy.(HR Al Bukhari)



11.    Apakah Allah عزّوجلّ menyertai kita dengan Zat-Nya atau dengan Ilmu-Nya ?

Allah menyertai kita dengan Ilmu-Nya, Dia selalu mendengar dan melihat kita.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِيْ مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَ أَرَى 

Allah berfirman,”Janganlah kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.(Thaha : 46)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم  : 

إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا وَهُوَ مَعَكُمْ  { أَيْ بِعِلْمِهِ يَسْمَعُكُمْ وَ يَرَاكُمْ {

Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia itu bersama kalian –yaitu dengan Ilmu-Nya Dia mendengar dan melihat kalian-. (HR Muslim)



12.    Apakah dosa yang paling besar ?

Dosa yang paling besar adalah syirik Akbar ?

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ  :

يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ    

Wahai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kedzaliman yang paling besar. (Luqman: 13)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

سُئِلَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟ قَالَ:أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

(Rasulullah) ditanya,” Dosa apa yang paling besar ? Beliau menjawab : Engkau menjadikan sekutu bagi padahal Dialah yang telah menciptakanmu. (HR Al Bukhari)



13.    Apakah Syirik akbar itu ?

Memalingkan ibadah kepada selain Allah عزّوجلّ, seperti doa.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ  :

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ وَلاَ أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

Katakanlah,” Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (Al Jinn : 20)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ اَلإِشْرَاكُ بِاللهِ   

Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah. (HR Al Bukhari)



14.    Apakah perbuatan syirik itu ada di kalangan kaum muslimin ?

Ya, ada bahkan banyak sekali, sungguh sangat memprihatinkan.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

وَ مَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللهِ  إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُوْنَ    

Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mereka mempersekutukan-Nya. (Yusuf: 106)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم  :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِيْ بِالْمُشْرِكِيْنَ وَ حَتَّى تَعْبُدَ الأَوْثَانَ  

Kiamat tidak akan terjadi sehingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala. (Hadits Shahih riwayat At Tirmidzi)



15.    Apakah hukum menyeru (memohon) kepada selain Allah عزّوجلّ, wali umpamanya ?

Menyeru kepada mereka adalah syirik Akbar yang menyebabkan pelakunya masuk neraka.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

فَلاَ تَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُوْنَ مِنَ الْمُعَذَّبِيْنَ    

Maka janganlah kamu menyeru (menyembah)tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab. (Asy Syu’ara :231)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ  

Barangsiapa mati sedang dia menyeru sesuatu selain Allah, maka ia masuk neraka. (HR Al Bukhari)



16.    Apakah berdoa kepada Allah عزّوجلّ itu termasuk ibadah kepada-Nya ?

Ya, berdoa kepada Allah عزّوجلّ itu termasuk ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ 

Dan Tuhan-mu telah berfirman,” Berdoalah kamu niscayaAku kabulkan bagimu. (Al Mu’min :60)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ  

Doa itu adalah ibadah. (HR At Tirmidzi beliau berkata: Hadits Shahih)



17.    Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa mendengar doa (permohonan kepada mereka) ?

Orang yang sudah meninggal dunia tidak bisa mendengar doa.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

إِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى 

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar. (An Naml: 80)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّ ِللهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِيْنَ فِي اْلأَرْضِ يُبَلِّغُوْنِيْ عَنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ 

Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu bertebaran di muka bumi ini, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)



18.    Apakah kita boleh meminta tolong/bantuan (istighatsah) kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang tidak ada hadir ditempat (ghaib) ?

Tidak boleh engkau meminta pertolongan kepada mereka, namun mintalah pertolongan hanya kepada Allah.

Sebagaimana Firman-Nya عزّوجلّ :

إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu Dia memperkenankannya bagimu. (Al Anfal : 9)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ 

Wahai Tuhan Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, dengan rahmatmu saya meminta pertolongan keselamatan. (Hadits Hasan Riwayat At Tirmidzi)



19.    Apakah boleh meminta pertolongan kepada selain Allah عزّوجلّ ?

Tidak boleh meminta pertolongan kepada selain Allah عزّوجلّ  .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ

 “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami minta pertolongan”. (Al Fatihah: 5 )

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِالِله  

Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan apabilaengkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. (HR At Tirmidzi).



20.    Bolehkah kita meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup lagi hadir ?

Ya, boleh dalam hal yang mampu mereka lakukan .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى  

Dan bertolong-tolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa.(Al Ma’idah :2)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ   

“Dan Allah akan memberi pertolongan kepada hamba (seseorang) apabila orang itu selalu memberi pertolongan kepada saudaranya. (HR. Muslim).



21.    Bolehkah kita bernadzar kepada selain Allah?

Tidak boleh bernazar kecuali kepada Allah semata

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

رَبِّ إِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا 

Wahai tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang sholeh dan berhikmat.(Ali Imran: 35) 

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ الله َفَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهِ فَلاَ يَعْصِهِ   رواه  البخاري

Barang siapa  bernazar akan ta’at kepada Allah maka ta’atilah Dia,dan  barang siapa bernazar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah berbuat maksiat kepada-Nya.  (HR  Bukhari).



22.    Apakah kita boleh menyembelih hewan untuk selain Allah عزّوجلّ  ?

Tidak boleh menyembelih hewan kecuali karena Allah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ      

 “Maka dirikanlah shalat karna tuhanmu dan berkorbanlah”. (Al Kautsar : 2)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

لَعَنَ الله َمَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ         

Allah mela’nat orang yang  menyembelih kerna selain Allah. (HR. Muslim).



23.    Bolehkah thawaf di kuburan ?

Tidak boleh, Thawaf hanya boleh dilakukan di ka’bah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :


وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ     

 Dan hendaklah mereka melakukan  thawaf sekeliling rumah yang tua itu (baitullah). (Al Hajj: 29)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ   

Barang siapa thawaf di baitullah (ka’bah) dan shalat dua raka’at maka (pahalanya) seperti pahala memerdekakan hamba sahaya. (HR.  Ibnu Majah).



24.    Apakah  kita boleh shalat sedangkan kuburan ada didepan kita ?

Tidak boleh,  kita  tidak boleh shalat menghadap kuburan.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram (menghadap ke kiblat)   (Al  Baqarah  : 144).

Dan Sabda Rasulallah صلي الله عليه وسلم :

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا  

Jangan kamu duduk di atas kuburan dan jangan Shalat menghadap kepadanyanya.  (HR. Muslim)



25.    Bagaimana hukum praktek sihir ?

Praktek sihir adalah kafir .                       

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَلَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ  

Akan tetapi syaitan itulah yang kafir mereka mengajarkan sihir kepada manusia.  (Al Baqarah: 102).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اجْتَنِبُوْا السَبْعَ الْمُوبِقَاتِ الشِّرْكُ بِاللهِ , وَالسِّحْرُ 

Hindarilah tujuh hal yang membinasakan yaitu: memperekutukan Allah, dan sihir…      (HR. Muslim) 



26.    Apakah kita boleh meyakini dan membenarkan peramal dan dukun (tukang tenung dan paranormal) ?

Tidak boleh kita mempercayai dan membenarkan mereka tentang masalah ghaib.

Sebangaimana firman Allah عزّوجلّ :

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِيْ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ    

Katakanlah : Tidak ada seorang pun yang ada dilagit dan di bumi mengetahui yang ghaib selain Allah. ( An Naml : 65)




Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa mendatangi peramal atau dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya sungguh telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad .(HR Ahmad)



27.    Apakah  ada orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib ?

Tidak seorang pun yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :


وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ   

Dan di sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia.  (Al an’am : 59) .

Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلاَّ الله ُ

Tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib kecuali Allah.  (Hadits hasan riwayat Thabrani).



28.    Apakah hukumnya  berhukum dengan undang-undang yang bertentangan dengan islam ?

Berhukum dengan undang-undang yang bertentangan dengan islam adalah  kufur, apabila (orang itu) membolehkannya.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ الله ُفَأَولَئِكَ هُمُ الكَافِرُوْنَ

Barang siapa tidak berhukum denga apa yang di turunkan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir.    (Al Maa-idah : 44.)

 Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوْا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ     

Dan selagi pemimpin mereka tidak memutuskan perkara dangan kitab suci Al qur’an dan mereka memilih-milih hukum yang di turunkan Allah , niscaya Allah akan menjadikan kehancuran mereka pada diri mereka .  (Hadits hasan riwayat  Ibnu Majah).



29.    Apakah bahayanya syirik akbar ?

Syirik akbar itu menyebabkan kita kekal di dalam neraka .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ          

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)  Allah. maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.       (Al maa-idah :  72)

Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ    رواه  مسلم

Barang siapa yang meninggal sedangkan dia  mensyerikatkan Allah dengan  sesuatu maka ia akan masuk neraka .  (HR. muslim).



30.    Apakah (amal shaleh) bermanfaat jika disertai dengan syirik ?

Tidak. (amal shaleh) tidak bermanfaat jika disertai dengan syirik.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَلَوْ أَ شْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلَوْنَ 

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.  ( Al an’am : 88).


Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ مَعِيْ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ     حديث قدسي 

Barang siapa Yang telah mensyirikkan-Ku dalam beramal kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya itu.  (HR. Muslim).



31.    Bolehkah kita bersumpah dengan selain Allah ?

Tidak, kita tidak boleh bersumpah dengan selain Allah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :


قُلْ بَلَى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ  

Katakanlah:” Tidak demikian, Demi Tuhanku, benar-benar kamu akan di bangkitkan.  (At-Taghaabun :  7)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :


مَنْ حَلَفَ بِغَ يِر اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ    

Barang siapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah berbuat kesyirikan. (HR  Ahmad.)





32.    Bolehkah kita memakai  Azimat (dan semisalnya) untuk menyembuhkan ?

Tidak, kita tidak boleh memakai  Azimat (dan semisalnya) untuk menyembuhkan, karena itu termasuk perbuatan syirik

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَ هُوَ

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kapadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.  (Al- An’am : 17)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ   

Barang siapa yang memakai Azimat maka dia telah berbuat syirik. (HR. Ahmad).



33.    Dengan apa kita bertawassul kepada Allah عزّوجلّ?

Kita bertawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya , sifat-sifat-Nya, dan amal shaleh (yang kita lakukan. Pent)

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَلِلَّهِ أَسْمَاءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهَا   

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma-ul husna itu. (Al A’raaf   : 180)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ   

Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang engkau jadikan nama bagi-Mu. ( HR. Ahmad).



34.    Apakah (dalam berdo’a) butuh perantaraan makhluk ?

Tidak, dalam berdo’a tidak butuh perantaraan makhluk.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أَجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِيْ  

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka( jawablah), Bahwaanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orangh yang berdo’a apabila memohon kepada-Ku. (Al- Baqarah : 186).

Dan Sabda Rasullullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا وَهُوَ مَعَكُمْ  ((بِعِلْمِهِ يَسْمَعَكُمْ وَيَرَاكُمْ)) 

Sesungguhnya kalian berdo’a memohon kepada tuhan yang maha mendegar lagi maha dekat dan Dia menyertai kalian.((dengan  ilmu-Nya mendengar dan melihat kalian)).( HR. Muslim).



35.    Apa perantaraan yang dilakukan Rasul صلي الله عليه وسلم ?

Perantaraan yang dilakukan Rasul صلي الله عليه وسلم adalah tabliqh (menyampaikan wahyu kepada manusia).

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ  

Hai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. (Al-Maaidah : 67).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اَللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اَللَّهُمَّ اشْهَدْ ((جوابا لقول الصحابة "نشهد أنك قد بلغت"))    

Ya Allah bukankah saya telah menyampaikan? , ya Allah saksikan lah .((Ini merupakan jawaban dari perkataan sahabat رضي الله عنهم “kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan”)) (HR. Muslim).






36.    Dari siapa kita meminta syafaat Rasulullah صلي الله عليه وسلم ?

Kita meminta syafaat Rasulullah صلي الله عليه وسلم dari Allah عزّوجلّ .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

قُلْ ِللهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا  

Katakanlah :“hanya kepunyaan Allah Syafaat itu semuanya.  (Az Zumar: 44)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ  ((أي شَفِّعْ الرسول صلى الله عليه وسلم فِيَّ)) 

Ya Allah izinkanlah Rasulullah memberi syafaat kepada ku.  (HR. Tirmizdi).



37.    Bagaimana kita mencintai Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya صلي الله عليه وسلم ?

Kita mencintainya dengan menta’ati keduanya  dan melaksanakan perintah keduanya .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Katakan:” jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi.  (Ali Imran : 31)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ   

Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sehingga saya lebih mereka cintai dari pada orang tua nya, anaknya, dan manusia seluruhnya.  (HR. Bukhari).



38.    Bolehkah kita berlebihan dalam menyanjung Rasulullah صلي الله عليه وسلم  ?

Tidak, kita tidak dibolehkah berlebihan dalam menyanjung Rasulullah صلي الله عليه وسلم 

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ         

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : “bahwa sesungguhnya tuhan kamu itu adalah tuhan yang Esa”.  (Al Kahfi : 110)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ  ((خصني الله بالوحي((

Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian.  ((hanya saja Allah menurunkan wahyu kapadaku)) (HR. Ahmad  disahihkan Al Albani) 



39.    Makhluk Apakah yang pertama kali di ciptakan Allah عزّوجلّ ?

Mahluk yang pertama kali di ciptakan Allah عزّوجلّ dari golongan manusia adalah Adam عليه السلام, dan dari sekalian makhluk adalah  qalam (pena).

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ خَالِقٌ بَشَرً مِنْ طِينٍ

(ingatlah) ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat: “sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.  (Shad : 71)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ     

Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah Alqalam(pena).   (HR. Abu Daud dan Tirmizdi).




40.    Apakah penciptaan Muhammad صلي الله عليه وسلم dari cahaya, atau dari nutfah(sperma) ?

Penciptaan Muhammad صلي الله عليه وسلم dari nutfah (sperma seperti manusia biasa. pent ).

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ     

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani.  (Al ghafir /al mu’min) : 67).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً      

Sesungguhnya setiap orang kamu diproses penciptaannya didalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah (sperma) .  (Muttafaq ‘alaihi)  



41.    Apakah hukum jihad fisabilillah ?

Jihad hukumnya wajib, dengan harta, jiwa dan lisan.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ  

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu.  (At Taubah :  41)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ    

Perangilah orang-orang musyrikin itu dengan hartamu, jiwamu, dan lidahmu.  (HR. Abu Daud)



42.    Apa yang dimaksud wala’ (loyal) kepada Orang mukmin ?

Yaitu mencintai, membela, serta menolong mereka yang beriman lagi bertauhid.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ   

Dan orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. (At-Taubah : 71).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا  

Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya bagaikan bangunan satu sama lainnya saling menguatkan.  (HR. Muslim)

43.    Bolehkah berwala’ (berloyal) kepada orang kafir dan membela mereka ?

Tidak, tidak boleh berwala’ (berloyal) kepada orang kafir dan tidak pula membela mereka.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ   

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  (Al maaidah : 51).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّ اَلَ بَنِيْ فُلاَنٍ لَيْسَ وَالِي بِأَوْلِيَاءٍ   

Sesungguhnya bani (marga) si pulan itu bukanlah para waliku.  (Mutafaqun ‘alaihi).



44.    Siapakah yang disebut wali itu ?

Wali yaitu : Orang yang beriman kepada Allah lagi bertaqwa.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ   

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.   (Yunus : 62).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إِنَّمَا وَلِيُ اللهِ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ    

Sesungguhnya wali Allah itu adalah oramg-orang yang sholeh dari orang-orang mukmin.    (Muttafaq ‘Alaih).



45.    Dengan apa orang mukmin itu berhukum ?

Seorang mukmin wajib berhukum dengan Alqur’an dan sunnah nabi صلي الله عليه وسلم .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَأَنِ احْكُمْ  بَيْنَهُمْ بِمَاأَنْزَلَ اللهُ   

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.  (Al maa-idah : 49).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اللهُ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْمَصِيْرُ 

Allah adalah hakim dan kepadanya tempat kita kembali.  (HR.  Ahmad).

46.    Untuk apa Al-Qur’an diturunkan Allah عزّوجلّ ?

Al-Qur’an diturunkan Allah untuk beramal dengannya.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

اِتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ   

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. (Al A’raf : 3(   

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

اِقْرَأُوْا الْقُرْآنَ وَ اعْمَلُوْا بِهِ وَلاَ تَأْكُلْ بِهِ وَلاَ تَسْتَكْثِرُوْا بِهِ   

Bacalah Alqur’an, beramallah dengannya dan jangan (mencari) makan dan kekayaan dengannya.   (HR. Ahmad).



47.    Apakah kita cukup beramal dengan Alqur’an saja, tanpa hadits nabi صلي الله عليه وسلم ?

Tidak, kita tidak cukup beramal dengan Alqur’an saja, tanpa hadits nabi صلي الله عليه وسلم  .

 Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبِيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ  

Dan Kami turunkan kepada kamu Alqu’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka.  (An-Nahl :44 )

 Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

أَلاَ وَإِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ  

Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Alqur’an dan yang serupa dengannya(hadits) bersamaan dengan Al-Qur’an itu.  (HR. Abu Daud).



48.    Bolehkah kita mendahulukan perkataan seseorang atas firman Allah عزّوجلّ dan  Sabda Rulullah صلي الله عليه وسلم ?

Tidak, kita tidak boleh mendahulukan perkataan seseorang atas firman Allah عزّوجلّ dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تُقَدِّمُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetuhui. (Al-Hujurat: 1)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

لاَطَاعَةَ ِلأَ حَدٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِيْ الْمَعرُوْفِ    

Tidak ada keta’an kepada siapapun untuk bermaksiat kepada Allah, hanya sanya keta’atan itu dalam hal yang ma’ruf.  (Muttafaqun ‘alaihi).



49.    Apakah yang harus kita lakukan jika kita berbeda pendapat ?

Jika kita berbeda pendapat kita kembali kepada Alqur’an dan As sunnah yang shahih.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيءءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ  

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalilah pada Allah (Alqur’an) dan Rasulnya صلي الله عليه وسلم (sunnahnya).   (An nisa’ : 59).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ   

Saya tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selagi kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu :  Kitabullah dan Sunnah Rasulnya.  HR.  Malik. (shahih lighairihi) .



50.    Adakah dalam agama ini bid’ah hasanah ?

Tidak, dalam agama islam tidak ada yang disebut dengan bid’ah hasanah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمِمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمْ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا  

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu . ( Al-Maa-idah: 3).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

إَيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمًوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   

Jauhilah oleh kamu perkara yang baru (dalam urusan agama) karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan itu adalah sesat.     (HR. Abu Daud).



51.    Apakah yang dimaksud dengan bid’ah didalam agama itu ?

Setiap urusan(ibadah) yang tidak ada dalilnya dari Al Qur’an ataupun sunnah.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا لَهُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?( Asy-Syuura: 21).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ    

Barang siapa yang mengada-ada sesuatu dalam urusan(agama) kami ini, yang bukan dari ajarannya maka urusan itu ditolak.    (Muttafaqun ‘alaihi).



52.    Adakah didalam Islam sunnah hasanah ?

Ya, seperti seseorang yang melakukan perbuatan baik (yang tidak bertentangan dengan agama islam. Pent)  dihadapan orang banyak untuk dicontoh .

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا   

Dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa.  (Al-Furqaan : 74).

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ سَنَّ فِيْ اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ   

Barang siapa yang memcontohkan suatu tradisi (sunnah) hasanah didalam islam maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia.  ( HR Muslim).



53.    Apakah cukup bagi seseorang, memperbaiki dirinya saja ?

Tidak, seorang muslim mesti dia memperbaiki dirinya dan juga orang lain (semampunya).

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ   

Dan hendaklah ada diantara kamu sogolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.   (Ali Imran : 104)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَاِنِه فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ   

Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hedaklah ia merobahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka robahlah dengan lidahnya dan jika ia tidak sanggup maka dangan hatinya yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman . HR. Muslim.



54.    Kapan orang muslim akan memperoleh kemenangan ?

Orang muslim akan memperoleh kemenangan jika mereka kembali kepada Alqur’an dan sunnah nabi mereka dan mengamalkannya.

Sebagaimana firman Allah عزّوجلّ :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ     

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong(agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan mengukuhkan kedudukanmu. (Muhammad : 7)

Dan Sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْصُوْرِيْنَ   

Akan selalu ada segolongan dari umatku yang mendapat pertolongan. (HR. Ibnu Majah).



Dzikir Setelah Shalat Wajib

Dzikir Setelah Shalat Wajib Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaika...