Prasangka-Prasangka
yang Tidak Patut di Tujukan Kepada Allah
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka menyangka yang tidak benar terhadap
Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan
itu seluruhnya di Tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa
yang tidak mereka tidak terangkan kepadamu, mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi
kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita
tidak akan dibunuh (dikalahkan) disini.’ Katakanlah, ‘Sekiranya kamu berada
dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah mentakdirkan akan mati terbunuh itu
keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam
hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali-Imran: 154).
Dan Allah Ta’ala berfirman, “Mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan
mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk.” (Al-Fath: 6).
Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata tentang ayat
pertama,
“Prasangka buruk ini ditafsirkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala
tidak menolong rasulNya shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa perkaranya akan
kandas. Ia juga ditafsirkan bahwa apa yang menimpanya bukan dengan takdir Allah
dan hikmahNya. Jadi, ia ditafsirkan dengan pengingkaran terhadap hikmah dan
takdir Allah, serta pengingkaran bahwa agama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa
sallam akan sempurna dan Allah akan memenangkan agama ini seluruhnya. Inilah
prasangka buruk, prasangka orang-orang munafik dan orang-orang musyrik
yang disebutkan didalam surat Al-Fath. Ini merupakan prasangka buruk, sebab ia
adalah prasangka yang tidak patut dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak
patut dengan hikmahNya, pujianNya dan janjiNya yang benar. Barangsiapa
berprasangka kepada Allah akan memberi kemenangan kepada kebatilan atas
kebenaran, sehingga kebatilan berkuasa terus menerus dan kebenaran terkikis
karenanya, atau dia mengingkari bahwa apa yang terjadi bukan dengan qada’ dan
qadarNya, atau dia mengingkari bahwa takdirNya adalah karena suatu hikmah yang
Dia patut dipuji karenanya, bahkan dia menyatakan bahwa hal itu hanyalah
sekedar kehendak saja tanpa hikmah, maka itu adalah prasangka orang-orang
kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu, mereka akan dibakar dengan api
neraka.
Kebanyakan manusia berprasangka buruk terhadap Allah ‘Azza wa
jalla, baik dalam perkara yang berkenaan dengan mereka sendiri ataupun dalam
perkara yang berkaitan dengan oranglain. Tidak selamat darinya kecuali orang
yang mengetahui Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, tuntunan hikmah dan
pujianNya. Oleh karena itu, hendaknya orang yang berakal yang menginginkan
kebaikan untuk dirinya memperhatikan hal ini hendaknya dia bertaubat kepada
Allah dan beristighfar kepadaNya dari prasangka buruknya kepada RabbNya. Seandainya
kamu selidiki seseorang, niscaya kamu mendapati pada dirinya penentang terhadap
takdir dan celaan kepadanya, dengan menyatakan bahwa semestinya begini-begini.
Ada yang memiliki porsi besar, ada yang memiliki porsi sedikit. Periksalah
dirimu sendiri, apakah kamu telah selamat dari sikap tersebut?
Jika kamu selamat darinya maka kamu selamat dari malapetaka besar
Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan
orang-orang mukmin sekali-sekali tidak akan kembali kepada keluarga mereka
selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu
prasangka itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu
menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 12).
Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam konteks
pembahasan tentang apa yang terjadi di perang Uhud dan pelajaran yang bisa
dipetik darinya. (Lihat Zad al-Ma’ad, 2/103-106 dan beliau juga menjelaskan di Ighatsah al-Lahfan).
Ini adalah prasangka buruk, prasangka jahiliyah –yakni dinisbatkan
kepada orang-orang jahil- prasangka tidak benar, karena ia adalah prasangka
yang tidak layak dengan Nama-nama Allah yang baik dan Sifat-sifatNya yang
tinggi, serta DzatNya yang terlepas dari segala aib dan keburukan, lain halnya
dengan apa yang patut dengan hikmahNya, pujianNya dan keesaanNya dalam
Rububiyah dan UluhiyahNya, apa yang patut dengan janjiNya yang benar yang tidak
Dia selisihi, patut dengan kalimatNya yang telah ditetapkan untuk
Rasul-rasulNya bahwa Dia menolong mereka dan tidak membiarkan mereka, dan bahwa
bala tentaraNya adalah orang-orang yang menang. Barangsiapa berprasangka buruk
kepada Allah bahwa Dia tidak menolong RasulNya, tidak menyempurnakan urusanNya,
tidak mendukung bala tentaraNya, tidak meninggikan mereka, tidak memenangkan
mereka atas musuh-musuh mereka, tidak menolong agamaNya dan KitabNya, dan bahwa
Allah akan memenangkan syirik diatas Tauhid, dan kebatilan diatas kebenaran
secara langgeng, dimana tauhid dan kebenaran menjadi sirna secara total
tidak akan tegak lagi untuk selama-lamanya, maka dia telah berprasangka buruk
kepada Allah kepada apa yang tidak patut dengan kebesaranNya,
keagunganNya, kesempurnaanNya, dan sifat-sifatNya, karena pujianNya, kemuliaanNya,
hikmahNya dan ketuhananNya menolak hal itu dan tidak mungkin membuat bala
tentaraNya dan golonganNya kalah, hikmahNya menolak memberikan kemenangan yang
langgeng dan keunggulan yang abadi kepada musuh-musuhNya, orang-orang musyrikin
yang mempersekutukanNya.
Barangsiapa berprasangka demikian kepada Allah, maka dia tidak
mengenal Alllah, tidak mengenal Nama-namaNya, tidak mengenal sifat-sifat dan
kesempurnaanNya. Demikian pula barangsiapa yang mengingkari bahwa hl itu
terjadi dengan qadha’ dan qadarNya, maka dia tidak mengenalNya, tidak mengenal
Rububiyah, kerajaan dan keagunganNya. Demikian pula siapa yang mengingkari
bahwa Dia menakdirkan sesuatu karena suatu hikmah yang mendalam dan tujuan yang
terpuji yang dengannya Dia berhak dipuji, bahkan prasangka bahwa apa yang
terjadi hanya sekehendak semata tanpa ada hikmah dan tujuan.
TakdirNya tidak akan keluar dari hikmahNya, karena ia membawa
kepada apa yang Dia cintai meskipun pada awalnya sesuatu yang dibenci, Dia
tidak menakdirkannya secara sia-sia Dia tidak menghendakinya karena main-main
dan Dia tidak menciptakannya secara batil. “Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka
celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27).
Kebanyakan manusia berprasangka buruk terhadap Allah secara tidak
benar, baik dalam perkara yang berkenaan dengan mereka sendiri ataupun dalam
perkara yang berkaitan dengan oranglain. Tidak ada yang selamat dari hal ini
kecuali siapa yang mengenal Allah, mengenal nama-nama dan sifat-sifatNya, mengenal
tuntutan hikmahNya dan pujianNya. Barangsiapa berputus asa dari rahmatNya dan
perputus harapan dari pertolonganNya, maka dia telah berprasangka buruk
terhadap Allah.
Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah mungkin mengazab
wali-waliNya padahal wali-wali itu telah berbuat baik dengan ikhlas kepadaNya,
bahwa Allah menyamakan mereka dengn musuh-musuhNya, maka dia telah berprasangka
buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan membiarkan makhlukNya
begitu saja tanpa diperintah dan dilarangan, Dia tidak mengutus Rasul-rasulNya,
dan tidak menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka, justru Dia membiarkan
manusia begitu saja seperti hewan ternak, maka dia telah berprasangka buruk
terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan membangkitkan manusia
setelah mati untuk memberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka, baik berupa
pahala atau siksaan dii akhirat, dimana pelaku kejahatan dibalas sesuai dengan
kejahatannya, dan Dia menjelaskan kepada makhlukNya hakikat dari apa yang mereka
perselisihkan dan menunjukan kepada seluruh alam akan kebenaranNya dan
kebenaran rasul-rasulNya, dan bahwa musuh-musuhNya adalah orang-orang yang
berdusta, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan menyia-nyiakan amal shalih
yang dilakukan oleh manusia dengan ihlas karena WajahNya yang mulia sesuai
dengan perintahNya, dan membatalkan amal tersebut tanpa sebab dari seorang
hamba, bahwa Dia akan menghukumnya karena sesuatu dimana dia tidak
berperan apapun padanya, tidak berikhtiar apapun padanya, tidak memiliki
kodrat dan keinginan apapun padanya atas kejadiannya, justru Dia menghukum
karena perbuatanNya ta’ala atau dia mengira bahwa Allah mungkin mendukung
musuh-mushuhNya yang berdusta atas namaNya dengan mukjizat-mukjizat yang
dengannya Allah mendukung nabi-nabiNya dan rasul-rasulNya, Dia memberikannya
kepada musuh-musuhNya untuk menyesatkan hamba-hambaNya, bahwa segala sesuatu
adalah baik bagiNya sampai-sampai mengazab orang yang telah menghabiskan umurnya
untuk mentaatiNya, lalu Dia menjadikannya kekal didalam neraka, diderajat
paling bawah, kemudian sebaliknya Dia memberi nikmat kepada orang yang telah
menghabiskan umurnya untuk memusuhiNya, memusuhi rasul-rasulNya dan agamaNya,
lalu Dia mengangkatnya ke derajat tertinggi, dan kedua perkara ini bagiNya
adalah sama baiknya, dan tidak diketahui tidak terjadinya sesuatu serta
terjadinya sesuatu yang lain kecuali dengan kabar yang benar, karena jika tidak
maka akan tidak bisa menetapkan mana yang buruk dan mana yang baik, maka dia
berprasangka buruk kepada Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Dia mengabarkan tentang DiriNya,
sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dengan perkataan yang zahirnya adalah
batil, mengandung tasybih dan tamtsil, dan menyangka bahwa
Dia mengabaikan kebenaran dalam hal ini, dimana Dia tidak menyampaikannya, akan
tetapi hanya memberikan simbol-simbol dan isyarat-isyarat yang samar dan tidak
dijelaskan, justru Dia selalu menyampaikan melalui tasybih, tamtsil dan kebatilan, Dia ingin agar makhlukNya
mengerahkan akal, pikiran dan kekuatan mereka untuk mentahrif dan menakwilkan firmanNya dari makna yang
sebenarnya dan mereka mencari-cari dari sisi-sisi kemungkinan yang buruk dan
takwil-takwil yang lebih dekat kepada teka-teki dan kontradiksi daripada kepada
penjelasan dan keterangan, Dia menyerahkan kepada akal dan pendapat mereka dari
memahami nama-nama dan sifat-sifatNya, bukan kepada kitabNya, bahkan menyangka
bahwa Dia ingin agar mereka tidak membawa firmanNya kepada pemahaman yang telah
mereka ketahui dari pembicaraan mereka dan bahasa mereka, padahal Dia mampu
menyampaikan kebenaran secara nyata dan membebaskan mereka dari kata-kata yang
menjerumuskan mereka kedalam keyakinan batil, namun Dia tidak melakukan, justru
Dia membawa mereka menyelisihi jalan petunjuk yang jelas, maka dia telah
berprasangka buruk terhadap Allah.
Karena jika Dia berkata, Allah tidak mampu mengucapkan kebenaran
dengan lafazh yang jelas yang dia dan pendahulunya gunakan, maka dia telah
mengira bahwa kemampuan Allah lemah, jika dia berkata bahwa Allah mampu namun
Dia tidak menjelaskan, Dia tidak memberi penjelasan dan mengungkapkan kebenaran
dengan nyata, sebaliknya Dia memilih penjelasan yang membingungkan,
menjerumuskan kedalam kebatilan yang mustahil dan keyakinan yang rusak, maka
dia telah berprasangka buruk terhadap hikmah dan rahmatNya.
Barangsiapa menyangka bahwa dirinya dan pendahulunya mengungkapkan
kebenaran secara jelas daripada Allah dan RasulNya, dan bahwa hidayah dan
kebenaran terdapat pada perkataan dan ungkapan mereka, adapun yang zahir dari
firman Allah menunjukkan tasybih, tamtsil dan kesesatan, sedangkan perkataan orang-orang
bingung lagi ngawur adalah petunjuk dan kebenaran, maka hal ini merupakan
seburuk-buruk sangkaan terhadap Allah.
Mereka sama termasuk orang-orang yang berprasangka buruk terhadap
Rabb mereka, prasangka yang tidak benar, yang merupakan prasangka jahiliyah.
Barangsiapa menyangka ada sesuatu dalam kerajaan Allah yang tidak
Dia kehendaki dan Dia tidak kuasa mengadakannya dan menciptakannya, maka dia
telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mampu berbuat apa-apa dari
zaman azali sampai seterusnya, Dia tidak disifati dengan kemampuan untuk
berbuat, kemudian Dia menjadi mampu setelah sebelumnya Dia tidak mampu, maka
dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mendengar, tidak melihat,
tidak mengetahui yang ada, tidak mengetahui jumlah langit dan bintang-bintang,
tidak mengetahui jumlah Bani Adam, gerakan dan perbuatan mereka, tidak
mengetahui apapun dari yang ada dengan pasti maka dia telah berprasangka buruk
terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak mempunyai pendengaran,
tidak mempunyai penglihatan, tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai keinginan,
bahwa Dia tidak berbicara kepada seorangpun dari makhlukNya, tidak berbicara
selama-lamanya, tidak berkata, tidak berfirman, tidak memerintahkan dan tidak
melarang, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak diatas langit, diatas
ArasyNya, terpisah dari makhlukNya, bahwa nisbat Dzatnya kepada ArasyNya adalah
seperti nisbatNya kepada derajat yang terendah dan kepada tempat-tempat yang
tidak patut disebutkan, bahwa Dia adalah yang terendah sebagaimana Dia adalah
yang tertinggi, bahwa siapa yang berkata, Mahasuci Tuhanku Yang Maharendah
adalah sama dengan orang yang berkata, Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi, maka
dia telah berprasangka terhadapNya dengan sangkaan yang paling buruk dan paling
jelek.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah mencintai kekufuran, kefasikan,
dan kemaksiatan, dan bahwa Dia mencintai kerusakan seperti Dia mencintai
keimanan, kebaikan, ketaatan, dan perbaikan, maka dia telah berprasangka buruk
terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Dia tidak mencintai dan tidak
meridhai, tidak marah dan tidak murka, tidak membela dan memusuhi, tidak
mendekatkan diri kepada makhlukNya dan tidak ada makhlukNya yeng mendekatkan
kepadaNya, bahwa dzat-dzat setan dalam perkara kedekatan kepada Allah adalah
sama dengan dzat-dzat para malaikat yang dekat dan para wali yang beruntung,
maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah menyamakan dua perkara
yang saling bertentangan, atau Allah membedakan antara dua perkara yang sama
dari segala sisi, atau Allah membatalkan ketaatan-ketaatan sepanjang usia yang
dilakukan dengan ikhlas dan benar hanya karena satu dosa besar yang dilakukan
setelahnya, lalu Allah menjadikan pelaku ketaatan-ketaatan tersebut kekal di
neraka jahanam gara-gara satu dosa besar selama-lamanya, Allah menghapuskan
seluruh ketaatannya dan mejadikannya kekal dalam azab seperti orang yang tidak
pernah beriman sekejap matapun dan menghabiskan seluruh umurnya untuk melakukan
perkara-perkara yang Dia murkai dan memusuhi rasul-rasulNya dan agamaNya, maka
dia telah berprasangka buruk terhadapNya.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu, atau
ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisiNya tanpa izinNya, atau antara
Allah dan makhlukNya terdapat para perantara yang dapat menyampaikan
hajat-hajat mereka kepadaNya, dan Dia menugaskan para waliNya kepada para
hambaNya supaya mereka mendekatkan diri dan berhubungan kepadaNya melalui
wali-wali itu, mereka menjadikan wali-wali itu sebagai perantara antara Allah
dengan mereka, lalu mereka berdoa, takut, dan berharap kepada wali-wali itu,
maka dia telah berprasangka terhadap Allah dengan sangkaan yang paling
buruk dan paling jelek.
Barangsiapa menyangka bahwa seseorang bisa mendapatkan apa yang
ada disisi Allah dengan bermaksiat dan mendurhakaiNya sebagaimana ia diraih
dengan ketaatan dan ibadah kepadaNya, maka dia telah berprasangka terhadapNya
dengan sangkaan yang menyelisihi hikmahNya, menyelisihi hikmahNya,
menyelisihi tuntunan nama-namaNya dan sifat-sifatNya, dan itu adalah prasangka
yang buruk.
Barangsiapa menyangka bahwa siapa yang meninggalkan sesuatu karena
Allah maka Allah tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya, atau
siapa yang melakukan sesuatu karenaNya maka Allah tidak akan memberinya apa
yang lebih baik darinya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah murka kepada hambaNya,
menghukumnya dan tidak memberinya kebaikan tanpa dosa dan sebab dari hamba
tersebut, kecuali hanya karena sekedar kehendakNya dan keinginanNya semata,
maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Barangsiapa menyangka bahwa jika seorang hamba takut dan berharap
kepadaNya dengan sebenar-benarnya, merendahkan diri kepadaNya, memohon
kepadaNya, meminta pertolongan kepadaNya, bertawakal kepadaNya, kemudia Allah
akan menyia-nyiakannya dan tidak mengabulkan apa yang dia minta, maka dia telah
berprasangka buruk terhadap Allah, menyangka sesuatu terhadapNya yang tidak
patut untukNya.
Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan memberi pahala kepada
hamba jika dia bermaksiat kepadaNya sebagaimana Dia memberinya pahala jika
hamba tersebut menaatiNya dan meminta hal itu didalam doanya, maka dia telah
berprasangka terhadap Allah dengan sangkaan yang menyelisihi hikmah dan
pujianNya, menyelisihi apa yang patut bagiNya dan apa yang tidak dilakukanNya.
Barangsiapa menyangka terhadap Allah bahwa jika seorang hamba
membuatNya marah dan murka dan dia tenggelam dalam kemaksiatan kepadaNya,
kemudian dia menjadikan penolong-penolong selainNya, dia berdoa kepada
selainNya, kepada malaikat atau manusia yang hidup atau mati, dengan itu dia
berharap meraih manfaat disisi Allah dan selamat dari azabNya, maka dia telah
berprasangka buruk terhadap Allah.
Kebanyakan manusia, bahkan seluruhnya, kecuali orang dikehendaki
kebaikan oleh Allah, berprasangka yang tidak benar dan buruk, dimana kebanyakan
Bani Adam meyakini bahwa haknya dikurangi dan bagiannya dizhalimi, bahwa
dirinya berhak lebih dari apa yang Allah berikan dan Allah kehendaki.
Kondisinya berkata, Rabbku telah berbuat aniaya terhadapku, dia menghalangiku
untuk mendapatkan apa yang menjadi hakku, sementara jiwanya mengakui hal itu,
sedang dengan lisannya dia mengingkarinya dan tidak berani mengungkapkannya
secara terbuka. Barangsiapa mendeteksi dirinya sendiri dan menyelam untuk
mengungkap sisi-sisinya, niscaya dia akan mendapati hal itu akan tersembunyi
didalam dirinya bagaikan api dalam kayu pemantik, nyalakanlah kayu pemantik
siapa yang kamu kehendaki, niscaya percikannya akan membuka apa yang tersimpan
didalamnya kepadamu. Seandainya kamu mendeteksi seseorang, niscaya kamu akan
mendapati sikap menentang dan menyalahkan takdir, serta mencela dan
mencemoohnya dengan mengatakan, “semestinya takdir itu begini dan begini”, ada
yang memiliki porsi yang besar, ada yang memiliki porsi yang sedikit.
Deteksilah dirimu sendiri, apakah kamu telah selamat?
Jika kamu selamat darinya maka kamu selamat dari petaka besar
Jika tidak maka aku tidak mengiramu akan selamat
Hendaknya orang yang berakal, yang menginginkan kebaikan untuk
dirinya, memperhatikan hal ini, hendaknya dia bertaubat kepada Allah
beristighfar kepada Allah setiap saat dari prasangka buruknya terhadap Rabbnya.
Hendaknya dia berprasangka buruk terhadap dirinya sendiri yang merupakan tempat
segala kejelekan dan sumber segala keburukan yang tersusun dari kejahilan dan
kezhaliman. Dirinya lebih pantas untuk disangka dengan sangkaan buruk daripada
Allah, Hakim yang paling bijaksana, Pengadil paling adil, Penyayang paling sayang,
Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, Pemilik kekayaan sempurna, Yang disucikan dari
segala keburukan pada dzat, Sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan nama-namaNya.
DzatNya mempunyai kesempurnaan mutlak dari segala segi. Sifat-sifatNya
juga demikian, seluruh perbuatanNya adalah kemaslahatan, hikmah, rahmat dan
keadilan. Sedang nama-namaNya semuanya terpuji lagi indah...
Jangan berprasangka buruk terhadap Rabbmu
Karena Allah paling patut dengan segala kebaikan
Jangan sekalipun mengira baik terhadap dirimu
Bagaimana orang yang zhalim lagi bodoh (mengaku baik)
Katakan, wahai jiwa tempat bermuaranya segala keburukan
Apakah kamu berharap kebaikan dari mayit yang kikir
Berprasangka buruklah terhadap dirimu, niscaya
Kamu mendapatinya demikian,
Dan kebaikannya bagaikan hal mustahil
Ketakwaan dan kebaikan yang tertanam didalam jiwamu
Adalah hasil pemberian Rabb Yang Mahamulia
Bukan miliknya dan bukan darinya, akan tetapi
Karunia dari Allah ar-Rahman
Maka bersyukurlah kepada Dzat yang telah membimbingmu...
______
[Disalin dari Fathul
Majid hal.1155-1168 edisi terjemahan Pustaka Sahifa]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar