Ilmu tentang Waktu Shalat
Abu Shadaqah Maula Anas رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata:
“ سَأَلْتُ أَنَسًا عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ ) صلى الله عليه وسلم ( فَقَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ) صلى الله عليه وسلم ( يُصَلِّى الظُّهْرَ إِذَا زَالَتِ
الشَّمْسُ وَالْعَصْرَ بَيْنَ صَلاتََيْكُمْ هَاتَيْنِ وَالْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَاْلعِشَاءَ إِذَا غَابَ الشَّفَقُ وَالصُّبْحَ إِذَا طلََعَ الْفَجْرُ إِلىَ أنَْ ينَْفَسِحَ
الْبَصَرُ “
“Saya bertanya kepada Anas tentang Shalat Rasulullah r maka dia berkata: Rasulullah dulu shalat
Zhuhur ketika matahari tergelincir, dan asar diantara dua shalat kalian ini, dan maghrib apabila matahari telah terbenam, sedangkan isya` ketika mega (merah) menghilang dan subuh ketika terbit fajar hingga pandangan terbuka.” (HR. Nasa`i, 1/94-95; Ahmad (3/129, 169), redaksi ini miliknya dan sanadnya shahih, para perawinya adalah para perawi Bukhari dan Muslim, kecuali Abu Shadaqah yang namanya Naubah al-Anshari al-Bashri. Demikian ucapan Syaikh al-Albani)
Perhatikan hadits Jabir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berikut:
كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّى الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ، وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ، وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ، وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا،
إِذَا رَآهُمُ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ، وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَوْا أَخَّرَ، وَالصُّبْحَ كَانُوا - أَوْ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ
“Nabi r shalat zhuhur di waktu sangat panas (di pertengahan hari), ashar pada saat matahari cerah,
maghrib jika matahari terbenam, sedangkan isya` kadang segera kadang lambat, jika melihat mereka
telah berkumpul beliau menyegerakan dan jika melihat mereka terlambat maka beliau mengakhirkan,
sementara subuh mereka- atau Nabi r- melaksanakannya di waktu ghalas.”
(HR. Bukhari, 560,Muslim,1423, Abu Daud, 397, Nasai dalam assughra 281)
Sementara di hadits Jabir yang lain kata ghalas ini diganti (ditafsiri) dengan “ketika fajar telah tampak terang pada beliau”.
صَلَّى رَسُوْلُ الله الصُّبْحَ حِيْنَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ.
“Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam shalat subuh ketika tampak terang pada beliau subuh (fajar
shadiq).” (HR. Nasa’i, 543, dari Jabir).
Ilmu dan Kajian Ini Penting untuk Imam dan Makmum
Sholat dan Pemimpin
Hadits Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
» يُصَلُّونَ لَكُمْ ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ ]وَلَهُمْ[، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ «
“Mereka shalat untuk kalian, jika mereka benar maka untuk kalian dan untuk mereka, namun jika mereka berbuat kesalahan maka untuk kalian, dan atas (tanggungan) mereka.” (HR. al-Bukhari, al-Baihaqi, lihat Fathul Bari (2/187)) Hadits Uqbah in Amir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
» مَنْ أَمَّ النَّاسَ فَأَصَابَ الْوَقْتَ وَأَتَمَّ الصَّلاَةَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَمَنِ انْتَقَصَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئاً فَعَلَيْهِ وَلاَ عَلَيْهِمْ «
“Barangsiapa mengimami manusia, lalu dia benar tepat pada waktunya, dan dia sempurnakan shalat
tersebut, maka (pahalanya) untuknya dan untuk mereka, dan barangsiapa mengurangi sesuatu dari hal
tersebut, maka (dosanya) atas (tanggungan)nya, dan tidak di atas (tanggungan) mereka.” (Hasan Shahih, Shahih Abi Dawud (1/115), Shahih Ibnu Majah (1/293), Lihat Faidhul Qadir (6/113), ‘Aunul Ma’bud (2/202), Fathul Bari (2/187))
Hadits Abdullah ibn amr رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
» سَتَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ يُؤَخرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، صَلُّوهَا لِوَقْتِهَا، فَإِذَا حَضَرْتُمْ مَعَهُمُ الصَّلاَةَ فَصَلُّوا «
“Akan ada sesudahku para imam yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya, maka shalatlah pada waktunya, jika kamu menghadiri shalat bersama mereka maka shalatlah.” (HR. Thabrani dari Lihat Shahih al-Jami’: 3619)
Hadits abu Dzar al-hifari رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
“Saya mendatangi Nabi r dengan air wudhu lalu beliau menggerak-gerakkan kepala dan menggigit
kedua bibirnya. Saya berkata: Dengan ibu dan bapakku (saya menebus anda), apakah saya menyakiti
anda? Beliau menjawab: Tidak, tetapi engkau akan menjumpai para amir dan para imam yang mengakhirkan shalat dari waktunya. Saya bertanya: Apa yang anda perintahkan untukku? Beliau menjawab:
صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَ مَعَهُمْ فَصَلِّهِ وَلاَ تَقُوْلَنَّ صَلَّيْتُ فَلاَ أُصَلِّيْ.
“Shalatlah tepat pada waktunya, kemudian jika kamu menjumpai mereka maka shalatlah bersama
mereka, jangan kamu mengatakan: aku sudah shalat maka aku tidak mau shalat lagi.” (Shahih al-Adab al-Mufrad: 954)
Hadits abdullah ibn Mas’ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ diriwayatkan oleh Zirr
) لَعَلَّكُمْ سَتُدْرِكُوْنَ أَقْوَامًا يُصَلُّوْنَ صَلاَةً لِغَيْرِ وَقْتِهَا فَإِذَا أَدْرَكْتُمُوْهُمْ فَصَلُّوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تَعْرِفُوْنَ ثُمَّ صَلُّوْا مَعَهُمْ
وَاجْعَلُوْهَا سُبْحَةً (
“Barangkali kalian kan menjumpai kaum-kaum yang melakukan shalat di luar waktunya; jika kalian
menjumpai mereka maka shalatlah di rumah-rumah kalian di waktu yang kalian kenal, kemudian shalatlah bersama mereka dan jadikanlah ia sebagai sunnah.” (HR. Ahmad 1/379, dari Abu Bakar: kami diberitahu oleh Ashim dari Zir. Ini sanad hasan; lihat pula Syarah al-Bukhari oleh Ibn Batthal)
Zirr ibn Hubaisy al-Asadi al-Kufi, berumur panjang; 60 tahun di Jahiliyyah dan 60 dalam Islam. Termasuk Tabi’in besar, qari` yang masyhur dan sahabat dari Abdullah ibn Mas’ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Hadits Ubadah Ibn Shamit رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
) أن الوليد بن عقبة أخر الصلاة مرة فقام عبد الله بن مسعود فثوب بالصلاة فصلى بالناس فأرسل إليه الوليد: ما حملك على ما
صنعت؟ أجاءك أمر من أمير المؤمنين فيما فعلت أم ابتدعت؟ قال: لم يأتي من أمير المؤمنين ولم أبتدع ولكن أبى الله عز وجل
علينا ورسوله أن ننتظرك بصلاتنا وأنت بحاجتك
Bahwasanya al-Walid ibn Uqbah (panglima) mengakhirkan shalat maka Abdullah ibn Mas’ud
mengiqamati dan memimpin shalat berjama’ah. Maka al-walid mengirim utusan kepada Ibn mas’ud:
apa yang membuat Anda melakukan yang demikian. Apakah anda mendapatkkan perintah dari amirul
mukminin ataukah Anda melakukan bid’ah? Maka ibn Mas’ud menjawab: tidak ada perintah dari amirul mukminin dan tidak pula saya melakukan bid’ah, tetapi Allah dan rasul-Nya tidak ridha kami menunggu Anda sementara Anda dalam keperluan Anda sendiri.” (HR. Ahmad. 1/450, sanad shahih)
‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata, “Saya telah menyertai Mu’adz di Yaman, dan tidak berpisah dengannya hingga saya menguburkannya di Syam. Setelah itu kemudian, saya selalu menyertai orang terpandai dalam ilmu fiqh, Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, maka saya mendengar dia berkata, “Hendaklah kalian memegang teguh jama’ah. Sebab tangan Allah di atas jama’ah.” Suatu hari saya mendengar dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Akan memimpin kalian para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka shalatlah kalian tepat pada waktunya, sebab demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama mereka karena shalat itu bagi kalian adalah tambahan (sunnah).”
Saya berkata, ‘Wahai shahabat Muhammad! Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan kepada
kami?” Ia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Apakah itu?”
Saya berkata, ‘Engkau memerintahkan aku berjama’ah dan menghimbauku kepadanya kemudian kamu berkata, “Shalatlah kamu sendirian, dan demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama jama’ah, dan dia sunnah??!!”
Ia berkata, “Wahai ‘Amr bin Maimun. Saya mengira kamu orang yang terpandai tentang fiqh dari penduduk negeri ini. Kamu mengerti, apa jama’ah itu?” Saya berkata, “Tidak.”
Ia berkata, “Sesungguhnya mayoritas masyarakat adalah orang-orang yang berpaling dari jama’ah. Jama’ah adalah sesuatu yang sesuai kebenaran, meskipun kamu hanya sendirian.” [Diriwayatkan
oleh Al-Lalikai di As-Sunnah nomor 160, dan lihat Ad-Da’wah Ilallah 89-95 pasal Al-Jama’ah
Musthalah wa Bayan oleh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi ]
Hal ini menunjukkan bahwa wajib mengikuti waktu-waktu yang ditetapkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bukan mengikuti jadwal imam yang salah:
Waktu Shalat Tauqifi, Jadwal Shalat Ijtihadi
• Rasul صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menerangkan terbitnya fajar syar‘i dan telah mengamalkannya.
• - Ijtihad ahli falak, bisa benar bisa salah.
• - Maka tidak boleh menyalahi syariat.
• - Tidak boleh mengganti dengan fajar falaki.
• - Kini Para ulama telah menggugat jadwal falaki.
Terbitnya Fajar Sebagai Tanda Awal Waktu
Yang dimaksud dengan terbit fajar adalah tampaknya fajar itu kepada kita, bukan fajar yang belum
tampak apalagi yang belum ada.
-حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ ا بْألَْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Hingga tampak terang bagimu benang putih dari benang hitam. yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
-حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ اْلأَحْمَرُ
“Hingga membentang padamu fajar kemerahan” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dari Thalq ibn Ali, hasan Shahih)
Kesaksian Imam Turmudzi (279 H) pengamalan shaum (dan shalat subuh-pent) kaum muslimin didasarkan pada hadits ini, dan ini dikatakan oleh semua ahli ilmu. (Jami’ Turmudzi: 705)
-صَلَّى رَسُوْلُ الله الصُّبْحَ حِيْنَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ.
“Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam shalat subuh ketika tampak terang pada beliau subuh (fajar
shadiq).” (HR. Nasai, 543, dari Jabir)
Mengenai ini Imam Nawawi berkata:
“Umat telah berijma’ bahwa awal waktu subuh adalah munculnya fajar shadiq, yaitu fajar kedua.” (Majmu’,3/43)
وَالْمُرَادُ الطُّلُوْعُ الَّذِىْ يَظْهَرُ لَنَا لاَ الَّذِىْ فِي نَفْسِ اْلأَمْرِ
“Yang dimaksud dengan kemunculan fajar adalah tampaknya fajar bagi kita bukan kemunculannya itu sendiri.” (6/304)
Shalat Subuh Adalah Shalat Siang, Sebagaimana Puasa Adalah Ibadah Siang
Imam Nawawi juga berkata:
“Shalat subuh adalah termasuk shalat siang, sedang awal siang adalah munculnya fajar kedua. Ini
madzhab kami dan diucapkan oleh para ulama, semuanya.” (3/45)
“Yang paling utama adalah menyegerakan subuh di awal waktunya yaitu jika telah terbukti (nyata) kemunculan fajar.” (3/51)
Para ulama menentukan fajar, ahli falak yang membuatkan jadwal
Para ulama yang menentukan, ahli falak yang menghitungkan. Yang faham fajar Syar’i adalah para
pewaris Nabi (para ulama) bukan ahli falak.
• Maka suatu kesalahan bila:
- ahli falak yang menetapkan jadwal berdasarkan fajar falaki, berseberangan dengan fajar Nabawi.
- para ulama melepaskan tugasnya ini dan membiarkan diurus oleh ahli falak yang berselisih tajam/
secara keliru.
Menentukan Fajar Adalah Dengan Melihat Kemunculannya
Waktu Shalat ► Musyahadah
Sejak zaman Rasulullah r didasarkan pada musyahadah.
Abu Hamid al-Ghazali j (505 H): “Tidak boleh mengandalkan kecuali pada pandangan mata.”
Lalu Fajar yang Bagaimana?
Berdasarkan al-Qur`an, Sunnah dan Ijma’, serta pemahaman salaf shalih fajar yang dimaksud adalah:
Tabayyun al-Fajr ats-Tsani/al-akhir, Bayadhun Nahar, al-mu’taridh fil-ufuq, Kalkhaithil mamdud, al-muntasyir ‘ala ruus al-Jibal, al-abyadh/ al-ahmar.
Abu Muhamad Ibn Hazm Al-andalusi () :
“Dia adalah permulaan sinar matahari, dan bertambah terangnya, terkadang mengandung campuran
warna dengan warna merah yang indah. Dengan tabayyun (nampak terang)nya masuklah waktu puasa
dan waktu adzan untuk shalat subuh dan waktu shalat subuh. Adapun masuknya waktu shalat (subuh)
dengan tabayyunnya (fajar ini) maka di dalamnya dari seorang pun dari umat ini.” tidak ada khilaf
Ibn Hazm :
“Karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membolehkan jimak, makan dan minum hingga fajar itu tampak terang pada kita. Allah tidak berkata: “Hingga fajar terbit,” juga tidak mengatakan: “Hingga kalian ragu tentang fajar.” Maka tidak halal bagi siapa pun mengucapkannya, juga tidak halal mewajibkan puasa dengan sesuatu yang belum tabayyun (tampak terang) pada seseorang.” Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H):
وَلاَ اعْتِمَادَ إِلاَّ عَلَى الْعَيَانِ، وَلاَ اعْتِمَادَ فِي الْعَيَانِ إِلاَّ عَلَى أَنْ يَصِيْرَ الضَّوْءُ مُنْتَشِرًا فِي الْعَرْضِ حَتَّى تَبْدُوَ مَبَادِى الصُّفْرَةِ، وَقَدْ غَلَطَ
فِي هَذَا جَمْعٌ مِنَ النَّاسِ كَثِيْرٌ يُصَلُّوْنَ قبَْلَ الْوَقْتِ
“Tidak boleh mengandalkan kecuali pada pandangan mata, dan tidak mengandalkan pandangan mata
kecuali atas dasar cahaya sudah menyebar dalam bentangan hingga tampak awal-awal kekuningan.
Sungguh telah salah dalam hal ini sekumpulan orang, banyak dari mereka shalat sebelum waktu.”
Abu Hamid al-Ghazali:
Setelah menyebutkan hadits Thalq Ibn Ali t ia berkata: “Ini adalah nyata dalam memperhatikan
warna kemerahan.” Lalu berkata:
فَإِذًا لاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُعَوَّلَ إِلاَّ عَلَى ظُهُوْرِ الصُّفْرَةِ وَكَأَنَّهَا مَبَادِىُ الْحُمْرَةِ
“Maka seyogyanya tidak mengacu kecuali pada tampaknya warna kekuningan, seolah-olah ia adalah
awal-awal kemerahan.” (Ihya` Ulumiddin, 2/132-134, Darul Fikr, cet. 2/1983)
Bagaimana Kalau Fajar Tidak Terlihat?
• Saat bisa musyahadah hitungan falak tidak berlaku.
• Saat tidak bisa musyahadah hitungan falaki pun tidak mengikat umat.
Jadwal shalat astronomis tidak dikenal kecuali sejak 1909. sebelumnya tidak ada, hingga Imam Nawawi (676 H) dalam al-Majmu’ (3/73) dan Rawdhatut Thalibin saat membahas kondisi yang tidak dapat musyahadah ini pun mengatakan:
لَوْ عَلِمَ الْمُنَجِّمُ دُخُوْلَ اْلوَقْتِ بِالْحِسَابِ حَكَى صَاحِبُ اْلبَيَانِ: اَلْمَذْهَبُ أَنَّهُ يَعْمَلُ بِهِ بِنَفْسِهِ وَلاَ يَعْمَلُ بِهِ غَيْرُهُ والله أعلم .
“Seandainya seorang ahli falak mengetahui waktu dengan hisab maka pemilik kitab al-Bayan (fil Fiqh al-Syafi‘i, syarah al-Muhadzab, 14 jilid, karya Imam Yahya ibn Abu al-Khair al-Imarani al-Yamani, 489 -558 H) mengatakan: Menurut madzhab Syafi’i ia mengamalkannya sendiri sedangkan orang lain tidak boleh mengamalkannya.” Wallahu a’lam.
Hal sama dikutip oleh Imam Taqiyyuddin Abu Bakr ibn Muhammad al-Husaini al-Dimasyqi al-Syafi‘i (752-829 H ) dalam Kifayatul Akhyar.
Dalam Madzhab Hanbali, al-Hajjawi al-Maqdisi tsumma ad-Dimasyqi (895-968) dalam al-Iqna’ Li Thalib al-Intifa’ (1/114):
وَيَعْمَلُ الْمُنَجِّمُ بِحِسَابِهِ جَوَازًا وَلاَ يُقَلِّدُهُ غَيْرُهُ عَلَى اْلاَصَحِّ فِي التَّحْقِيْقِ وَغَيْرِهِ،
Hingga sekarang ini, Lajnah Daimah lilbuhuts al-ilmiyyah wal-ifta’ KSA berfatwa:
“Tidak ada nilainya bagi pembagian astronomi (tentang fajar: fajar astronomi, fajar nautika dan fajar
sipil) dalam menetapkan waktu-waktu shalat, sesungguhnya yang menjadi acuan dalam masuknya
waktu fajar adalah dengan munculnya cahaya yang membentang di ufuk timur, jika telah terang dan
tampak jelas. Dan berakhir dengan munculnya matahari…..
Dan waktu imsak dari pembatal-pembatal puasa dimuali dengan masuknya waktu fajar yang telah dijelaskan sebelumnya, serta berakhir dengan terbenamnya piringan matahari itu sendiri meskipun masih ada sesuatu dari cahaya setelah terbenamnya.” (keputusan Haiat Kibar Ulama no 61/1398 H)
Jadi taqwim shalat seperti yang ada sekarang ini kembali kepada 2 pakar Inggris Mr. Lehman & Mr.
Melthe yang merekomendasikan taqwim Mesir pada tahun 1908-1909 M mengacu fajar falaki 19,5o.
Sebelumnya shalat subuh berdasar musyahadah al-Fajr al-Tsani.
Di Indonesia kembali kepada tahun 1975-an, oleh Sa’duddin Jambek al-falaki, dg sudut 20 derajat,
hanya karena kehati-hatian untuk puasa.
Kini sudut 20 derajat itu dipertanyakan karena fajar shadiq terlihat di sudut 14,6 atau 15 derajat,
bukan di 18 apalagi 20.
Semoga kriteria Syaikh Jambek untuk subuh ini ditinggalkan oleh Kemenag (dulu Depag), sebagaimana kriteria Syaikh Jambek untuk Hilal (0 derajat) tidak diikuti oleh Kemenag.
Nabi صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
الفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يَحْرُمُ فِيهِ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فيه الصَّلاَةُ، وفَجْرٌ يَحِلُّ فيه الطَّعَامُ وتَحْرُمُ فيه الصَّلاةُ
“Fajar itu ada dua: fajar yang haram di dalamnya makan dan halal shalat (subuh), serta fajar yang halal di dalamnya makan dan haram shalat (subuh).” (HR. Khuzaimah, Hakim, Shahih al-Jami’, 4279)
Ibn Khuzaimah “Hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu tidak boleh pelaksanaannya sebelum masuk waktunya.”
Hadits Muhammad ibnTsauban
Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda:
اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ فَالَّذِيْ كَأَنَّهُ ذَنَبُ السَّرْحَانِ لاَ يُحَرِّم شيئاً، وَإِنَّمَا الْمُسْتَطِيْرُ الَّذِيْ يَأْخُذُ ا فْألُُقَ، فَإِنَّهُ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ
“Fajar itu ada dua; yang seperti ekor serigala tidak mengharamkan sesuatu. Sesungguhnya yang
menyebar yang mengambil tempat di ufuk itulah yang menghalalkan shalat dan mengharamkan makan.” HR. Ibn Jarir, riwayat ke empat. Ini adalah Mursal jayyid. ALBANI: (HR. Hakim (1/91), darinya al-Baihaqi (1/377), al-Dailami (2/344): SANAD JAYYID Al-Albani: Kewajiban melaksanakan shalat setelah munculnya fajar shadiq adalah kira-kira 30 menit
setelah fajar falaki, maka di sana haram makan dan halal shalat.” (Al-Shahihah Mukhtasharah: 693)
Di tempat lain : “Adzan di masjid-masjid sekarang dikumandangkan antara 20 hingga 30 menit sebelum fajar shadiq, artinya juga sebelum fajar kadzib” (Al-Shahihah Mukhtasharah: 2031)
Nabi telah memperingatkan:
لاَ يَغُرَّنَّكُمْ نِدَاءُ بِلاَلٍ، وَلاَ هَٰذَا الْبَيَاضُ حَتَّى يَبْدُوَ الْفَجْرُ أَوْ قَالَ حَتَّىٰ يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ
“Jangan kalian tertipu oleh adzan yang dikumandangkan Bilal, tidak pula dengan cahaya putih ini, hingga tampak nyata fajar.” Atau beliau bersabda: “Hingga meledak fajar” (HR. Muslim: 2500)
Dalam riwayat Nasai
لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ وَلاَ هٰذَا الْبَيَاضُ حَتَّى يَنْفَجِرَ الْفَجْرُ هٰكَذَا وَهٰكَذَا يَعْنِي مُعْتَرِضاً. «
.» قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَبَسَطَ بِيَدَيْهِ يَمِيناً وَشِمَالاً مَادًّا يَدَيْهِ
“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, juga oleh cahaya putih ini hingga memancar (meledak)
fajar begini dan begini, maksudnya membentang.”
Abu Daud berkata: “Dan ia membentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.”
Imam Abu Mijlaz (Lahiq ibn Humaid as-Sadusi al-Bashri, w. 100 atau 101 H) seorang tabi’in yang meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, Hasan ibn Ali dan Muawiyyah serta Imran ibn Hushain, berkata:
الضَّوءُ السّاطِعُ في السَّمَاءِ لَيْسَ بِالصُّبْحِ، وَلَكِنَّ ذَاكَ الصُّبْحُ الكَذّابُ. إنما الصُّبْحُ إِذَا انْفَضَحَ الأُفُقُ «
“Cahaya yang menjulang (meninggi) di langit bukanlah subuh, akan tetapi itu adalah fajar kadzib.
Sesungguhnya subuh itu adalah apabila ufuk menjadi terbuka (tersingkap) berwarna putih.“
*Al-Afdhah adalah al-abyadh (putih) yang tidak sangat putih. Dari Jami’ul Bayan 2/235, no. 2450.
مَا كَانُوْا يُؤَذِّنُوْنَ حَتىَّ يَنْفَجِرَ اْلفَجْرُ.
“Tidaklah mereka melakukan adzan sehingga fajar memancar (meledak).” (Ibn Abi Syaibah, 2221)
Rasulullah r berkata kepada Bilal:
يَا بِلاَلُ تُؤَذِّنُ إِذَا كَانَ الصُّبْحُ سَاطِعًا فِي السَّمَاءِ فَلَيْسَ ذَلِكَ باِلصُّبْحِ إِنَّمَا الصُّبْحُ هَكَذَا مُعْتَرِضًا، ثُمَّ دَعَا بِسَحُوْرِهِ فَتَسَحَّرَ.
“Wahai Bilal engkau adzan bila fajar mencuat ke atas (ke langit), dan itu bukan subuh, sesungguhnya
Aisyah berkata:
Subuh itu yang begini membentang, kemudian beliau meminta sahurnya dan makan sahur.” Sanadnya
dihasankan oleh Hamzah Ahmad al-Zain DALAM TAKHRIJ Musnad Ahmad 15/549, hadits no 1390.
Dalam hadits Qais bin Thalq dari ayahnya Thalq ibn Ali:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُم السَّاطِعُ المُصْعِدُ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ
“Makan dan minumlah, dan jangan menghalangi kalian (dari makan sahur) cahaya terang yang mencuat ke langit. Makan dan minumlah hingga membentang fajar kemerahan untuk kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi dan Ibn Khuzaimah, dan ibn Abi Syaibah. Hadits hasan shahih). Imam Al-Azhari (w. 370 H) dalam Tahdzib al-Lughah, pada materi Shubh (4/268) berkata:
وَلَوْنُ الصُّبْحِ الصَّادِقِ يَضْرِبُ إِلَى الحُمْرَةِ قَلِيْلاً كَأَنَّهَا لَوْنُ الشَّفَقِ ا وْألَََّلِ فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ اه
“Dan warna fajar shadiq sedikit condong (mengisyaratkan) kepada warna merah seolah-olah ia warna
mega pertama di awal malam.”Imam Tirmidzi bersaksi
)وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أهَْلِ الْعِلْمِ: أنَهَُّ لا يَحْرُمُ عَلَى الصَّائِمِ ا كَْألَْلُ وَالشُّرْبُ، حَتَّى يَكُوْنَ الْفَجْرُ اْلأحَْمَرُ الْمُعْتَرِضُ. وَبِهِ يَقُوْلُ عَامَّةُ
أَهْلِ اْلعِلْمِ(.
“Prakteknya (pengamalannya) berdasarkan ini di kalangan para ahli ilmu; yaitu tidak haram atas orang yang berpuasa makan dan minum hingga fajar kemerahan membentang. Ini dikatakan oleh segenap ulama.” (Hadits 705) Hadits Thalq ibn Ali yang lain:
)لَيْسَ الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيلَ فِي الأُفُقِ وَلَكِنَّهُ الْمُعْتَرِضُ الأَحْمَرُ(
“Bukanlah fajar itu cahaya yang meninggi di ufuk, akan tetapi yang membentang berwarna merah (fajar putih kemerah-merahan).” (HR. Ahmad, dari Qais ibn Thalq dari ayahnya. Hadits hasan)
• tidak boleh menolak hadits ini dengan alasan ia bertentangan dengan ayat, karena justru hadits
ini yang menjelaskan maksud ayat. Inilah yang dipahami dan dipraktekkan salaf shalih. Inilah fajar
salafi bukan fajar falaki.
Dari Abu Dzar, Rasulullah berkata kepada Bilal :
يَا بِلاَلُ تُؤَذِّنُ إِذَا كَانَ الصُّبْحُ سَاطِعًا فِي السَّمَاءِ فَلَيْسَ ذَلِكَ باِلصُّبْحِ إِنَّمَا الصُّبْحُ هَكَذَا مُعْتَرِضًا، ثُمَّ دَعَا بِسَحُوْرِهِ فَتَسَحَّرَ.
“Wahai Bilal engkau adzan bila fajar mencuat ke atas (ke langit), dan itu bukan subuh, sesungguhnya
subuh itu yang begini membentang, kemudian beliau meminta sahurnya dan makan sahur.” Sanadnya
dihasankan oleh Hamzah Ahmad al-Zain. (Musnad Ahmad 15/549, hadits no 21390). Imam Nawawi berkata:
(Sub bahasan) Para sahabat kami berkata: fajar itu ada dua; yang satu disebut fajar pertama dan fajar
kadzib, sedang yang lain disebut fajar kedua dan fajar shadiq. Fajar pertama terbit meninggi ke atas
seperti ekor serigala kemudian menghilang, sesaat kemudian muncul fajar kedua yang shadiq secara
menyebar, maksudnya mengembang membentang di ufuk.
Para sahabat kami berkata: Hukum-hukum semuanya terkait dengan fajar kedua; dengannya masuk
waktu shalat subuh, keluar waktu isyak, masuk dalam puasa, dan haram makan dan minum bagi orang yang berpuasa, dengannya berakhirlah malam dan masuklah siang. Dan tidak terkait dengan fajar pertama hukum apapun, berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (al-Majmu’ 3/44)
Shalat Shubuh Sebelum Tampak Terangnya Fajar Kedua Ini Tidak Sah
Imam Syafi’i berkata:
وَإِذَا بَانَ اْلفَجْرُ اْلأَخِيْرُ مُعْتَرِضًا حَلَّتْ صَلاَةُ الصُّبْحِ وَمَنْ صَلاهََّا قَبْلَ تَبَيُّنِ الْفَجْرِ اْلأَخِيْرِ مُعْتَرِضًا أَعَادَ وَيُصَلِّيْهَا أَوَّلَ مَا o
يَسْتَيْقِنُ اْلفَجْرُ مُعْتَرِضًا حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهَا مُغَلِّسًا.)الأم(
وَلَمْ يَخْتَلِفْ أَحَدٌ أَنَّ اْلفَجْرَ إِذَا بَانَ مُعْتَرِضًا فَقَدْ جَازَ أَنْ يُصَلِّىَ الصُّبْحَ
Kemudian imam Syafi’I menjelaskan khilaf ulama tentang keutamaan pelaksanaan shalat subuh:
فَقُلْنَا إِذَا انْقَطَعَ الشَّكُّ فِي اْلفَجْرِ اْلآخِرِ وَبَانَ مُعْتَرِضًا فَالتَّغْلِيْسُ بِالصُّبْحِ أَحَبُّ إِلَيْنَا. وَقَدْ قَالَ بَعْضُ النَّاسِ اَلْإِسْفَارُ بِالْفَجْرِ أَحَبُّ إِلَيْنَا
Kemudian imam syafi’I menjelaskan alasan mengapa memilih taghlis: perintah muhafazhah shalat
نِألََّ التَّغْلِيْسَ أَوْلاَهُمَا مَعْنًى لِكِتَابِ اللهِ وَأَثْبَتُهُمَا عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ وَأَشْبَهُهُمَا بِجُمَلِ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَعرَفُهُمَا
عِنْدَ أَهْلِ اْلعِلْمِ
Jawaban imam Syafi’I terhadap hadits Rafi’ ibn Khadij tentang perintah melaksanakan subuh diwaktu Isfar karena itu lebih banyak pahalanya maka beliau berkata antara lain:
فَلَعَلَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ سَمِعَهُ فَقَدَّمَ الصَّلاَةَ قَبْلَ أَنْ يَتَبَيَّنَ اْلفَجْرُ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُسْفِرُوْا حِيْنَ يَتَبَيَّنَ اْلفَجْرُ اْلآخِرُ )وخاصة في ليلة مقمرة(
“Barangkali ada diantara manusia yang mendengarnya (maksud imam Syafi’I adalah mendengar hadits keutamaan awal waktu seperti hadits Awal waktu adalah ridha Allah, dan hadits amalan terbaik adalah shalat di awal waktu) lalu ia mendahulukan (mengajukan ) shalat sebelum tampak terangnya ajar maka Rasulullah saw memerintahkan mereka meng-isfar-kan ketika fajar terakhir tampak erang.”
(al-Um, Darul Fikr, 1/89; yang di Maktabah Syamilah 1/94)
Ijma’: Shalat Sebelum Waktu Tidak Sah, Wajib Mengulangi
) 85/ الشافعي: لَوْ صَلَّى قَبْلَ الْوَقْتِ وَهُوَ مُسْلِمٌ أَعَادَ ) 1
. ابن عبدالبر:))لاَ تُجْزِئُ قَبْلَ وَقْتِهَا، وَهَذَا لاَ خِلاَفَ فِيْهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ(( الإجماع ص 45
Al-Hafizh ibn Abdil Bar (463 H):
“Telah berijma’ para ulama bahwa awal waktu shalat subuh adalah terbitnya fajar kedua, apabila telah jelas kemunculannya, yaitu cahaya putih yang membentang di ufuk timur, yang sesudahnya tidak ada lagi kegelapan.“ (At-Tamhid: 3/275, cetakan al-Maghribiyyah)
Ijma’ tentang awal waktu subuh dan kilaf dalam melaksanakan shalat subuh
Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan hal ini (Fathul Bari, ibn Rajab 4/105)
وَالْكَلاَمُ هَاهُنَا فِيْ مَسْأَلَتَيْنِ:
الْمَسْأَلَةُ ا وْألُْلىَ: فِيْ وَقْتِ الْفَجْرِ: أَمَّا أَوَّلُ وَقْتِهَا: فَطُلُوْعُ الْفَجْرِ الثَّانِي، هَذَا مِمَّا لاَ اخْتِلاَفَ فِيْهِ. وَقَدْ اَعَادَ أَبُوْ مُوْسَى وَاْبنُ عُمَرَ
صَلاَةَ الْفَجْرِ لَمَّا تَبَيَّنَ لَهُمَا أَنَّهُمَا صَلَّيَا قَبْلَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ.....
الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَّةُ: فِيْ أَنَّ ا فْألَْضَلَ: هَلْ هُوَ التَّغْلِيْسُ بِهَا فِيْ أَوَّلِ وَقْتِهَا، أَمِ الْإِسْفَارُ بِهَا؟ وَفِيْهِ قَوْلاَنِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ التَّغْلِيْسَ بِهَا أَفْضَلُ،
“Pembicaraan disini ada pada dua permasalahan; permasalahan pertama, tentang waktu fajar. Adapun
awal waktunya adalah terbitnya fajar yang kedua, ini tidak ada perselisihan didalamnya. Abu Musa dan Ibnu Umar telah mengulangi shalat fajar saat menjadi jelas bagi keduanya bahwa keduanya telah shalat sebelum terbit fajar… Permasalahan kedua; tentang mana yang afdhal; apakah taghlis dengan shalat fajar di awal waktunya ataukah isfar denganya? Maka pada kedua ada dua pendapat; salah satunya bahwa taghlis lebih utama,…..(Lihat selengkapnya di buku saya Tanggapan Lumrah Terhadap Makalah Siapa Yang Salah Kaprah hal. 31-32) Imam Nawawi 3/43
واجمعت الامة على ان اول وقت الصبح طلوع الفجر الصادق وهو الفجر الثاني وآخر وقت الاختيار إذا اسفر أي اضاء ثم يبقى
وقت الجواز الي طلوع الشمس
51/3
اما حكم المسألة فالافضل تعجيل الصبح في أول وقتها وهو إذا تحقق طلوع الفجر هذا مذهبنا ومذهب عمر وعثمان وابن الزبير
وانس وابى موسى وابي هريرة رضى الله عنهم والاوزاعي ومالك واحمد واسحق وداود وجمهور العلماء
وقال ابن مسعود والنخعي والثوري وابو حنيفة تأخيرها الي الاسفار أفضل
Begitu Pula Tidak Sah di Waktu yang Meragukan:
Sebab hukum asalnya adalah belum masuk waktu (Nawawi dalam al-Majmu’, Badruddin az-Zarkasyi as-Syafi’i dalam al-Mantsur fil-Qawa’is dan ad-Dasuki al-Maliki dalam Hasyiyahnya). Imam Ibn Qudamahdalam al-Mughni (2/30) mengatakan:
إن مَنْ شَكَّ فِي دُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُصَلِّي حَتَّى يَتَيَقَّنَ دُخُوْلَهُ، أَوْ يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ ذَلِكَ.
Sementara Sahur Masih Halal Dalam Waktu yang Meragukan
Ibn Abbas : “Makanlah selagi kamu ragu hingga kamu tidak ragu.”
Abu Daud berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Jika ia ragu tentang fajar maka ia boleh makan hingga merasa yakin kemunculannya. Ini adalah ucapan Ibnu Abbas, Atha` dan Auza’i, karena hukum asalnya masih malam. (As-Syarhul Kabir, Ibn Qudamah: 3/78)
Maka Diantara Solusinya:
Kita wajib hati-hati dengan mengundurkan iqamahnya hingga 25 menit. Baca buku Iqamat shalat
subuh menurut para ulama.:
Wasiat Imam Syafi’I berkata:
أجمع الناس )المسلمون( على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن له أن يدعها لقول أحد
“Semua orang (muslim) telah bersepakat bulat bahwa barangsiapa yg telah jelas baginya sunnah Rosulullah shalaallahu ‘alaihi wa salam maka dia tidak boleh meninggalkan sunnah tersebut karena mengikuti pendapat seseorang”
Semoga Allah menampakkan kepada kita yang benar itu benar lalu diberi kekuatan untuk melaksanakannya dan yang batil itu batil lalu diberi kekuatan untuk menjauhinya. Aamiin [*]
I’lamul-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, 2/282; Ar-Ruh, Ibnu Qayyim hal 395; Zadul Muhajir, Muhammad ibn Abi Bakr Ayyub al-Zar’I, Tahqiq Dr. Muhammad Jamil Ghazi, 37; Iqazhul Himam, Imam Al-Fulani (Shalih ibn Muhammad as-Sudani, w 1218 H), 68. lihat sifat Shalat Nabi.
والله أعلمُ
Sumber MAjalah Qiblati
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Dzikir Setelah Shalat Wajib
Dzikir Setelah Shalat Wajib Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaika...
-
Dzikir Setelah Shalat Wajib Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaika...
-
Buku Panduan Kajian Bahasa Arab Ahad pagi Masjid Ar-royyan Download
-
Wajib Selektif Menerima Berita Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada ba...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar