Dzikir Setelah Shalat Wajib

Dzikir Setelah Shalat Wajib

Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaikan yang mudah untuk kita amalkan adalah berdzikir setelah melaksanakan shalat wajib yang lima waktu. Dzikir (wirid) ini sangat penting karena diantara fungsinya adalah sebagai penyempurna dari kekurangan dalam shalat kita. Bahkan dzikir setelah shalat fardhu merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, walaupun dalam keadaan genting sekalipun seperti dalam keadaan perang. Sebagaimana firmanNya:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (AnNisa’: 103) Ayat tersebut terkait dengan kondisi perang, maka dalam kondisi aman tentu lebih memungkinkan untuk melaksanakan dzikir.
Para pembaca rahimakumullah, seorang muslim yang berdzikir setelah shalat hendaknya Mencukupkan dengan dzikir-dzikir yang telah disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bukan dengan dzikir yang tidak dicontohkan oleh beliau, yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dzikirdzikir
yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam berdasarkan haditshadits yang shahih adalah sebagai berikut:

1. Mengucapkan istighfar 3 kali:

أسََْتْغِفُر اللهََّ

Artinya: “Saya mohon ampun kepada Allah.” tiga kali
Lalu mengucapkan:

اللهَُّمَّ أنَْتَ السَّلَُام وِمْنكَ السَّلَُام تبَاََرْكتَ ذا اْلجَلَالِ واِلإْكَراِم

Artinya: “Ya Allah Engkaulah AsSalam (Dzat yang selamat dari segala kekurangan) dan dariMu (diharapkan) keselamatan, Maha Suci Engkau Dzat Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)

2. Mengucapkan:

لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ ٬ لهَُ اْلمُْلكُ ٬ ولهَُ اْلحَمُْد ٬ وهَْو علىَ كُلِّ شَىٍْء قِديٌر
اللهَُّمَّ لَا مانعَِ لمَِا أعَْطَْيتَ ٬ ولَا مْعطِىَ لمَِا مَنْعتَ ٬ ولَا ينََْفُع ذا اْلجَِدّ مِْنكَ اْلجَُّد

Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satusatuNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan dan milikNya pula segala puji, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu mencegah terhadap apa yang Engkau berikan, dan ada yang mampu memberi terhadap apa telah Engkau mencegahnya, serta tidak bermanfaat disisiMu
kekayaan orang yang kaya.” (HR. AlBukhari dan Muslim)

3. Mengucapkan:

لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ لهَُ اْلمُْلكُ ولهَُ اْلحَمُْد وهَُو علىَ كلِّ شَىٍْء قِديٌر 
لَا حَْولَ ولَا قَّوَة إلَِّا باِللهَِّ
 لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ ولَا نعَُْبُد إلَِّا إيِاَُّه لهَُ النعِّْمَُة ولهَُ اْلَفضْلُ ولهَُ الَّثَناُء اْلحَسَنُ لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ مخْلصِِينَ لهَُ الِدّينَ
وَلوَْ كِرَه اْلكَافرُِونَ

Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satusatuNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan dan milikNya pula segala puji, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah, Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepadaNya. MilikNya segala nikmat, keutamaan dan pujian yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah dengan memurnikan agama hanya untukNya, walaupun orangorang kafir membencinya.” (HR. Muslim no. 594)

4. Mengucapkan Tasbih, Tahmid dan Takbir :

سُبحان لله

(Maha suci Allah) 33 kali,

الْحَمْدُ لِلَّهِ 

(Segala puji hanya milik Allah) 33 kali,

لله أكبر

(Allah Maha besar) 33 kali, dan digenapkan menjadi seratus dengan mengucapkan:

 لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ لهَُ اْلمُْلكُ ولهَُ اْلحَمُْد وهَُو علىَ كلِّ شَىٍْء قِديٌر

Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satusatuNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan dan milikNya pula segala puji, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” (HR. AlBukhari dan Muslim)

Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa bertasbih (mengucapkan سُبحان لله) kali, bertahmid (mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ ) ,sebanyak 33 kali bertakbir (mengucapkan لله أكبر)  sebanyak 33kali, itu semua berjumlah 99, kemudian sempurnanya 100 dengan mengucapkan:

لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ لهَُ اْلمُْلكُ ولهَُ اْلحَمُْد وهَُو علىَ كلِّ شَىٍْء قِديٌر

(Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satusatuNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan dan milikNya pula segala puji, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu)), Niscaya akan diampuni dosadosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR.Muslim no. 597)

5. Membaca Ayat Kursi:

اللهُّ لَا إلََِه إلَِّا هَُو اْلحَيُّ اْلَقيوُُّم لَا تأَْخُُذُه سَِنةٌ ولَا نوَْمٌ لهَُّ ما فيِ السَّمَاَواتِ وَما فيِ الَْأرضِ من ذا الذَِّي يشََْفُع عِْنَدُه إلَِّا بإِذِْنهِِ يعَْلمَُ ما
بيَْنَ أيَِْديِهمْ وَما خَْلَفُهمْ ولَا يحِيطُونَ بشَِيٍْء منْ عِْلمِهِ إلَِّا بمَِا شَاء وسِعَ كُْرسِيهُُّ السَّمَاَواتِ والَْأرضَ ولَا يؤَُوُدُه حِْفظُُهمَا وهَُو اْلَعليُِّ اْلَعظِيمُ

Artinya: “Allah, tidak ada ilah (sesembahan yang haq (benar) diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya) ; tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya?(Allah) mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apaapa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (AlBaqarah: 255)

Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:

من قرأ آية الكرسي في دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة الا ان يموت نوع آخر
في دبر الصلوات

“Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai menunaikan shalat lima waktu, maka tidaklah ada yang menghalanginya untuk masuk ke dalam Al-Jannah (Surga) kecuali kematian.” (HR. AnNasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 9928)

6. Membaca surat AlIkhlash, AlFalaq dan AnNaas:

قُلْ هَُو اللهَُّ أحٌََد . اللهَُّ الصَّمَُد . لمَْ يلَدِْ ولمَْ يولدَْ . ولمَْ يكَُن لهَُّ كُفوا أحٌََد

Artinya: “Katakanlah: “Dialah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (AlIkhlash: 14)

قُلْ أعَُوُذ برَِبِّ اْلَفلقَِ . من شَِر ما خَلقََ . وِمن شَِر غاسِقٍ إذَِا وَقبَ .
وَِمن شَِر الَّنَّفاثاَتِ فيِ اْلُعَقِد . وِمن شَِر حَاسٍِد إذَِا حَسََد

Artinya: “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhlukNya. Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita.Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhulbuhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (A-l-Falaq:15)

قُلْ أعَُوُذ برَِبِّ الَّناسِ . ملكِِ الَّناسِ . إلِهَِ الَّناسِ . من شَِر اْلَوسَْواسِ
اْلخََّناسِ . الذَِّي يَوسِْوسُ فيِ صُُدوِر الَّناسِ . منَ اْلجَِّنةِ و الَّناسِ

Artinya: “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilah (sesembahan) manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (AnNaas: 16)

Catatan: Membaca surat AlIkhlaash, AlFalaq dan AnNaas satu kali setelah shalat DZhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan AnNasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)

Keutamaannya adalah sebagimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam: “Tiga surat tersebut cukup bagimu (sebagai permohonan perlindungan) dari segala kejelekan.” (Lihat Sunan Abu Daud no. 5094)

7. Mengucapkan:

لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ ٬ لهَُ اْلمُْلكُ ولهَُ اْلحَمُْد يحْييِ وُيمِيتُ
وَهَُو علىَ كلِّ شَيٍْء قِديٌر

Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satusatuNya,tidak ada sekutu bagiNya, milikNya segala kekuasaan dan milikNya pula segala puji, (Dialah Dzat) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. AtTirmidzi dan AnNasa’i) Dibaca 10 kali setelah Shalat Maghrib dan Shubuh. Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan usai shalat Shubuh dalam keadaan melipat kedua kakinya sebelum berbicara

لَا إلِهََ إلَِّا اللهَُّ وحَْدُه لَا شَِريكَ لهَُ ٬ لهَُ اْلمُْلكُ ولهَُ اْلحَمُْد يحْييِ وُيمِيتُ وهَُو علىَ كلِّ شَيٍْء قِديٌر

10 kali, maka dituliskan baginya 10 kebajikan, dihapus darinya 10 keburukan, dan diangkat baginya 10 derajat,serta harinya itu berada dalam lindungan dari semua yang tidak disenangi dan dijaga dari setan, juga dosa tidak akan mencapai (timbangan)nya pada hari itu selain dosa menyekutukan Allah (berbuat kesyirikan red).” (HR. At-Tirmidzi no. 3474 dan Ahmad no. 16583/16699)

8. Membaca:

اللهَُّمَّ إنِيِّْ أسَْألَُكَ عِْلمًا ناَفعًِا وِرْزًقا طَيبِّاً وَعمَلًا مَتَقبلًَّا

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”
Dibaca setelah shalat Subuh. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz
Zawaa`id 10/111)
Keutamaan Berdzikir
Diantara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah:
1. Firman Allah,
فَاْذُكُرونيِ أذَُْكْرُكمْ واشُْكُروا ليِ ولا تكَُْفُرونِ
“Karena itu, ingatlah kalian kepadaKu
niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepadaKu,
dan
janganlah kalian mengingkari (nikmat)Ku.”
(AlBaqarah:
152)
2. Firman Allah,
ياَ أيَهَُّا الذَِّينَ آَمُنوا اْذُكُروا اللهََّ ذْكًرا كثيًِرا
“Hai orangorang
yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyakbanyaknya.”
(AlAhzaab:
41)
3. Firman Allah,
“Sesungguhnya lakilaki
dan perempuan yang muslim, lakilaki
dan perempuan yang mukmin, lakilaki
dan
perempuan yang tetap dalam ketaatannya, lakilaki
dan perempuan yang benar/jujur, lakilaki
dan perempuan
yang sabar, lakilaki
dan perempuan yang khusyu’, lakilaki
dan perempuan yang bershadaqah, lakilaki
dan
perempuan yang berpuasa, lakilaki
dan perempuan yang memelihara kehormatannya, lakilaki
dan perempuan
yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(AlAhzaab:
35)
4. Firman Allah,
وَاْذُكْر ربكََّ فيِ نفَْسِكَ تضََُّرًعا وخِيَفًة وُدونَ اْلجَْهِر منَ اْلَقْولِ باِْلُغُدِو والآصَالِ ولا تكَُنْ منَ اْلَغافلِيِن
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orangorang
yang lalai.” (AlA’raaf:
205)
Adapun di dalam AsSunnah,
Diantaranya:
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مََثلُ الذَِّيْ يذَُْكُر ربهَُّ والذَِّيْ لَا يذَُْكُر ربهَُّ مَثلُ اْلحَيِّ واْلمَيتِِّ
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti
orang yang hidup dan mati.” (HR. AlBukhariy
no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)
Adapun lafazh AlImam
Muslim adalah,
مََثلُ اْلبيَْتِ الذَِّيْ يْذَكُر لُله فيِْهِ واْلبيَْتِ الذَِّيْ لَا يْذَكُر لُله فيِْهِ مَثلُ اْلحَيِّ واْلمَيتِِّ
“Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah
adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”
2. Dari ‘Abdullah bin Busrin radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lakilaki
bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan
kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab,
لَا يزََالُ لسَِاُنكَ رطْباً منْ ذْكِر لِله
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR. AtTirmidziy
5/458 dan Ibnu Majah
2/1246, lihat Shahiih Sunan AtTirmidziy
3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317)
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرأ حَْرًفا منْ كتَِابِ لِله فلهَُ بهِِ حَسََنةٌ واْلحَسََنُة بعَِشِْر أمََْثالهَِا لَا أقَُْولُ الم حَْرفٌ ولكَِنْ ألَفٌِ
حَْرفٌ ولَامٌ حَْرفٌ وِمْيمٌ حَْرفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan
dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu
huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. AtTirmidziy
5/175, lihat Shahiih Sunan AtTirmidziy
3/9
serta Shahiihul Jaami’ AshShaghiir
5/340)
Dzikir Ada Dua Macam
1. Dzikir secara mutlak, yaitu dzikir yang diperintahkan tanpa ada ikatan waktu, tempat, atau jumlah
tertentu, maka dzikir semacam ini tidak boleh dilakukan dengan menentukan jumlahjumlah
yang dikhususkan
seperti seribu kali dan semisalnya. [Lihat Ilmu Ushul Bida’ bab/pasal Hadyus Salaf wal Amal bin Nushushil
Ammah.]
Dzikir semacam ini sebagaimana dalam firmanNya:
"Hai orangorang
yang beriman, berdzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyakbanyaknya".
(QS. alAhzab
[33]: 41)
Membatasi suatu ibadah yang tidak dibatasi oleh Allah adalah menambah syari’at Allah. Allah tidak mengikat
dengan jumlah tertentu dalam dzikir jenis ini merupakan kemurahan dan kemudahan dari Allah. Setiap hambaNya
bebas berdzikir sesuai dengan kemampuannya tidak terikat dengan jumlah dzikir tertentu. [Lihat asSubhah
Tarikhuha wa Hukmuha hlm. 102103.].
2. Dzikir muqoyyad, yaitu dzikirdzikir
yang dianjurkan supaya dilakukan dengan hitungan tertentu, seperti
ucapan Subhanalloh 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allohu Akbar 33 kali, dan hitungan paling banyak yang
pernah dianjurkan oleh Nabi adalah 100 kali, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Barang siapa mengucapkan Subhanallohi wabihamdihi setiap hari seratus kali, maka dihapus dosadosanya
walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. alBukhori:
6042 dan Muslim: 2691)
Adapun yang disyari’atkan dalam dzikir muqoyyad adalah dengan menggunakan ruasruas
jari atau ujungujungnya,
sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para istri dan kaum wanita dari
kalangan sahabatnya. Beliau bersabda:
.َواْعُقَدنَّ باِْلَأناَِملِ فإنِهَُّنَّ مسُْؤْوَلاتٌ وُمسَْتْنطََقاتٌ
“Hitunglah (dzikir) itu dengan ruasruas
jari karena sesungguhnya (ruasruas
jari) itu akan ditanya dan akan
dijadikan dapat berbicara (pada hari Kiamat).” (HR. Abu Dawud: 1345, dishohihkan oleh alHakim
dan adzDzahabi,
dihasankan oleh anNawawi
dan alHafizh,
alAlbani
dalam Silsilah Dho’ifah: 1/186)
Adapun tentang makna الَأناَِملُ Qotadah berkata bahwa maksudnya adalah ujungujung
jari. Sedangkan Ibnu
Mas’ud, asSuddiy,
dan Robi’ bin Anas berkata, الَأناَِملُ adalah jarijemari
itu sendiri (Tafsir alQur‘
anil Azhim
kar. Ibnu Katsir 2/108).
Ibnu Manzhur (Lisanul Arab 14/295) mengatakan bahwa الَأناَِملُ adalah ruasruas
jari yang paling atas yang ada
kukunya.
Dalam alQomush
alMuhith:
2/955 disebutkan bahwa الَأناَِملُ adalah ruasruas
jari atau sendisendinya.
Dari keterangan di atas jelas bahwa berdzikir disyari’atkan dengan ujungujung
jari atau ruasruas
jari. Dan
inilah cara yang paling mudah sesuai dengan Islam yang penuh dengan kemudahan, sehingga kaum muslimin
dari semua kalangan dapat melakukannya tanpa menggunakan alat bantu seperti kerikil, bijibijian,
butiranbutiran
tanah liat, atau alat penghitung modern, dan semisalnya.
"Berdzikir hanya dengan tangan kanan saja, tidak selayaknya dengan tangan kiri, sebagaimana ditegaskan oleh
Syaikh Ibnu Baz (Fatawa Islamiyyah hlm. 320), beliau berkata:
“Sungguh telah sah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau menghitung tasbihnya (dzikirnya)
dengan tangan kanannya, dan barang siapa berdzikir dengan kedua tangannya maka tidak berdosa, lantaran
riwayat kebanyakan hadits yang mutlak (mencakup tangan kedua tangan), tetapi berdzikir dengan tangan
kanan saja lebih afdhol karena mengamalkan sunnah yang sah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suka mendahulukan bagian
kanan baik dalam bersandal, bersisir, bersuci, dan setiap urusannya.” (HR. alBukhori
1866 dan Muslim 268)
Dzikir dengan suara pelan
Imam anNawawi
dalam alMajmu’
III/487 berkata, Imam asySyafi'i
berkata dalam alUm,
“Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berdzikir kepada Allah Ta'ala ba’da salam dari shalat dan
keduanya memelankan dzikir, kecuali bagi imam dengan maksud mengajarkan, maka dia mengeraskannya
sampai orangorang
belajar dan setelah itu dia memelankan, karena Allah Ta'ala berfirman, “Dan janganlah
kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya.” (AlIsra`:
110). Yang
dimaksud dengan “Shalatmu.” adalah doamu, “Jangan mengeraskan.” Yakni meninggikan. “Jangan pula
merendahkan.” sehingga dirimu sendiri tidak mendengarnya.”
Penafsiran “Shalatmu.” dengan doamu berdasarkan ucapan Aisyah yang berkata tentang ayat tersebut, “Ia
turun tentang doa.” (HR. AlBukhari
dan Muslim).
Imam anNawawi
berkata, “Demikianlah rekanrekan
kami mengatakan bahwa dzikir dan doa setelah shalat
dianjurkan untuk dipelankan kecuali bagi imam yang bermaksud mengajar, dia mengeraskan agar orangorang
belajar, jika mereka telah belajar dan mengetahui maka imam memelankan.”
Selanjutnya Imam anNawawi
menyebutkan hadits Abu Musa alAsy’ari,
dia berkata, “Kami bersama Nabi
shalallahu'alaihi wa sallam dalam perjalanan, jika kami naik dari suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir, kami
mengangkat suara kami, maka Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sayangilah diri kalian,
karena sesungguhnya kalian tidak memanggil dzat yang tuli dan dzat yang tidak hadir. Sesungguhnya Dia
bersama kalian, Maha Mendengar lagi Mahadekat.” (HR. AlBukhari
dan Muslim).
Bagaimana dengan hadits berikut?
Imam alBukhari
dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui selesainya shalat
Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam dengan takbir.” Dalam riwayat Muslim, “Mengangkat suara dengan dzikir
setelah orangorang
salam dari shalat wajib terjadi pada zaman Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam. Aku
mengetahui selesainya shalat mereka dengan itu jika aku mendengarnya.”
Maksud hadits ini seperti yang dikatakan oleh Imam asySyafi'i,
sebagaimana yang dinukil oleh Imam anNawawi
darinya dalam alMajmu’,
adalah bahwa hal itu dilakukan oleh Nabi shalallahu'alaihi wa sallam beberapa
waktu agar para sahabat belajar dari beliau.
Imam asySyafi'i
berkata, “Menurutku Nabi shalallahu'alaihi wa sallam mengeraskan beberapa waktu –
maksudnya dalam hadits Ibnu Abbas di atasagar
orangorang
belajar darinya, karena kebanyakan riwayatriwayat
yang kami tulis bersama ini dan lainnya tidak menyebutkan tahlil dan takbir ba’da salam, Ummu
Salamah menyebutkan diamnya Nabi shalallahu'alaihi wa sallam ba’da salam dan beliau tidak berdzikir dengan
jahr. Menurutku beliau tidak diam (ba’da salam) kecuali untuk berdzikir dengan sir.”
Wallahu a’lam bisshowab.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dzikir Setelah Shalat Wajib

Dzikir Setelah Shalat Wajib Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaika...