Syaikhul Islam berkata, "Barang siapa yang memiliki kebiasaan ibadah yang
disyari'atkan seperti sholat dluha, sholat malam, dan yang lainnya, maka
hendaknya ia tetap mengerjakannya dimanapun ia berada. Hendaknya ia tidak
meninggalkan kebiasaan ibadahnya tersebut hanya karena dia sedang berada
dihadapan manusia jika Allah telah mengetahui dari isi hatinya bahwasanya ia
(biasanya) telah melakukan ibadah-ibadah tersebut secara sirr (bersendirian dan
sembunyi-sembunyi) karena Allah dan kesungguhannya untuk membersihkan hatinya
dari penyakit riyaa' dan penyakit-penyakit lain yang bisa merusak
keikhlasannya. Oleh karena itu Fudhoil bin 'Iyaadh pernah berkata,
تَرْكُ الْعَمَلِ
لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ
"Meninggalkan
amalan karena manusia adalah riyaa', dan beramal karena manusia adalah
kesyirikan"….
Barangsiapa yang
melarang suatu perkara (ibadah) yang disyari'atkan hanya karena persangkaanya
bahwa hal itu adalah riyaa' maka pelarangannya tersebut tertolak dari beberapa
segi;
Pertama : Amalan-amalan yang disyari'atkan tidaklah
dilarang hanya karena takut terjerumus dalam riyaa', bahkan amalan-malan
tersebut tetap diperintahkan sambil diperintahkan untuk ikhlas dalam
mengamalkannya. Jika kita melihat ada orang yang melakukan ibadah dan amalan
–meskipun kita bisa memastikan ia melakukannya karena riyaa'- kita tetap
membenarkan amalannya. Orang-orang munafiq yang disifati oleh Allah dengan
firmanNya
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا
كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka dan
apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut
Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisaa’ [4] :142)
Nabi –sallallahu 'alaihi
wa sallama- dan kaum muslimin membenarkan perkara agama yang dinampakkan oleh
orang-orang munafiq tersebut –meskipun mereka melakukannya karena riyaa'-, dan
mereka tidak dilarang untuk menampakkan amalan dzohir. Hal ini karena kerusakan
yang timbul akibat meninggalkan sikap menampakkan (menyiarkan) ibadah yang
disyari'atkan lebih besar dari pada kerusakan yang timbul akibat menyiarkan
ibadah dengan riyaa'. Sebagaimana kerusakan yang timbul karena meninggalkan
penyiaran iman dan sholat lebih besar daripada kerusakan yang timbul akibat
menyiarkannya dengan riyaa'.
Dan karena pengingkaran
hanyalah tertuju pada kerusakan yang timbul karena menyiarkan amalan karena
riyaa' terhadap manusia.
Kedua : Karena pengingkaran hanyalah tertuju pada apa
yang diingkari oleh syari'at, padahal Rasulullah pernah bersabda
إنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ
أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ، وَلَا أَنْ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
"Sesungguhnya aku
tidak diperintahkan untuk memeriksa hari-hati manusia dan membelah perut
mereka"
Umar bin Al-Khotthoob
pernah berkata,
مَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا
أَجَبْنَاهُ، وَوَالَيْنَاهُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ سَرِيرَتُهُ بِخِلَافِ
ذَلِكَ، وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا شَرًّا أَبْغَضْنَاهُ عَلَيْهِ، وَإِنْ زَعَمَ
أَنَّ سَرِيرَتَهُ صَالِحَةٌ
"Barangsiapa yang
menampakkan kepada kami kebaikan maka kami akan menerimannya dan kami akan
berwala' kepadanya, meskipun batinnya menyelisihi dzohirnya.
Dan barangsiapa yang
menampakkan kejelekan kepada kami maka kami akan memusuhinya meskipun dia
menyangka bahwa batinnya baik"
Ketiga : Pembenaran perkara ini (yaitu mengingkari orang
yang menampakkan amalan sholeh karena dituduh riyaa') menjadikan para pelaku
kesyirikan dan kerusakan akan mengingkari para pelaku kebaikan dan agamawan.
Karena jika mereka melihat ada orang yang menampakkan ibadah yang disyari'atkan
dan disunnahkan serta merta mereka akan berkata, "Orang ini adalah orang
yang riyaa'". Hal ini tentu mengakibatkan orang-orang yang baik dan ikhlas
akan meninggalkan penyiaran ibadah-ibadah yang disyari'atkan karena kawatir
dengan celaan dan ejekan mereka. Akibatknya kebaikan akan ditinggalkan, dan
jadilah kekuatan didominasi oleh para pelaku keyirikan dalam menyiarkan
keburukan, dan tidak seorangpun yang mengingkari perbuatan mereka. Ini tentu
merupakan kerusakan yang sangat besar.
Keempat : Bentuk pengingkaran seperti ini merupakan salah
satu syi'arnya orang-orang munafiq, yaitu mencela orang yang menampakkan
amalan-amalan yang disyari'atkan. Allah berfirman
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ
الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ
إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ
(orang-orang munafik
itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah
dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan)
selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka.
Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih (QS At Taubah [ 9] :79)
Sesungguhnya tatkala
Nabi –sallallahu 'alaihi wa sallama- memotivasi para sahabat untuk berinfaq
pada waktu perang Tabuuk maka datanglah sebagian sahabat menginfakkan sekantong
uang yang berat hingga hampir-hampir tangannya tidak mampu untuk membawa
kantong tersebut. Orang-orang munafik pun mengomentari dengan berkata, "Orang
ini orang yang riyaa'". Sebagian sahabat ada juga yang menginfakkan satu
soo' (sekitar 2,5 kg gandum atau kurma) maka orang-orang munafikpun
berkomentar, "Allah sungguh tidak butuh dengan satu soo' si fulan".
Maka mereka orang-orang munafik mengejek yang model ini dan model itu, maka
Allahpun menurunkan ayat diatas, dan jadilah peristiwa ini sebagai peringatan
bagi orang-orang yang mengejek dan mencela kaum mukminin yang melakukan amalan
sholeh karena Allah dan RasulNya. Wallahu a'lamu" (Majmuu' al-Fataawaa
23/174-175)
Sungguh nasehat emas
Ibnu Taimiyyah diatas mengingatkan kita untuk terus semangat beramal sholeh
dengan penuh keikhlasan, dan tetap berjuang untuk
ikhlas dan melawan penyakit riyaa' jika kita melakukan amalan-amalan kebajikan dihadapan khalayak
ramai. Jangan sampai kita akhirnya meninggalkan syi'ar islam hanya karena takut
riyaa'. Menyembunyikan amalan sholeh memang merupakan hal yang disyari'atkan,
akan tetapi terkadang kita dihadapkan dengan kondisi yang mau atau tidak mau
kita harus menampakkan amalan sholeh kita dihadapan orang lain, jika tidak maka
kita tidak jadi beramal. Misalnya kita sedang berada rapat bersama
sahabat-sahabat kita dari pagi hingga waktu sholat dzuhur, sementara kebiasaan
kita adalah sholat dhuha. Maka bagaimanakah sikap kita, apakah kita tetap
melaksanakan sholat dhuha dihadapan teman-teman kita?, ataukah kita
meninggalkan sholat dhuha kita, karena kawatir terjerumus dalam riyaa'?.
Terkadang datang bisikan dalam hati kita untuk tidak menampakkan syi'ar islam
dengan alasan kawatir terjerumus dalam riyaa'. Jika datang bisikan tersebut
maka yakinlah bisikan tersebut datang dari syaitan yang ingin mencegah kita
dari beramal kebajikan. Maka nasehat emas di atas merupakan jawaban atas
bisikan yang menggoda kita tersebut.
Dan ingatlah, bukankah
jika kita menampakkan syi'ar-syi'ar Islam maka itu merupakan salah satu bentuk
dakwah secara terang-terangan?. Ketahuilah di zaman sekarang ini betapa banyak
kaum muslimin dan muslimat yang malu untuk menunjukan ke-Islaman mereka. Betapa
banyak orang Islam yang malu untuk membuka al-qur'an jika mereka sedang berada
di hadapan umum, di ruang tunggu, atau di atas bis kota.? Betapa banyak orang
Islam yang malu melaksanakan sholat sunnah di hadapan teman-teman mereka?.
Betapa banyak wanita yang malu untuk memakai jilbab yang lebar dan syar'i hanya
karena malu dan takut dikatakan sok alim.
Wahai para pembaca yang
budiman, ingatlah bagaimana para sahabat –tatkala di awal dakwah Islam di kota
Mekah- betapa banyak di antara mereka yang berangan-angan untuk bisa
menampakkan Islam. Meskipun taruhannya adalah siksaan yang berat dan pedih yang
harus mereka rasakan. Untuk bisa mengucapkan Laa ilaaha illallaah secara
terang-terangan maka harus ditebus dengan pukulan yang menyakitkan dengan kroyokan,
bahkan ada diantara para sahabat yang diseret dengan bertelanjang badan diatas
tanah dan batu-batu yang panas di bawah sinar matahari yang sangat terik.
Bahkan ada diantara mereka ada yang harus menebus penyiaran Islam dengan harus
diletakkan tubuhnya di atas arang yang menyala-nyala hingga akhirnya
arang-arang tersebut padam karena melecetkan kulit tubuhnya….
Bahkan ada yang harus
menebus penyiaran Laa ilaaha illallahu dengan mati syahid….
Lantas sekerang kenapa
kita sekarang harus malu untuk menyiarkan syi'ar Islam dihadapan masyarakat??,
kenapa kita harus malu untuk menggerakkan bibir dan lisan kita dengan
menunjukkan kepada masyarakat bahwasanya kita cinta untuk berdzikir dan
mengingat Allah penguasa alam semesta ini???
Nasehat emas diatas juga
merupakan bantahan yang telak kepada syubhat yang sering dilontarkan oleh
orang-orang yang dalam hati mereka ada kemunafikan. Diantara mereka ada yang
berkata –seakan-akan memberi nasehat, padahal hakekatnya adalah ingin
menyesatkan-, "Janganlah engkau sholat berjama'ah nanti engkau terjerumus
dalam riyaa', cukuplah engkau sholat di rumah, karena hal itu bisa lebih
menjaga keikhlasan". Ada juga yang berkata kepada wanita mukminah,
"Janganlah engkau memakai jilbab, itu akan mendatangkan riyaa' dalam hatimu,
bukankah sahabat-sahabatmu tidak memakai jilbab?, maka buat apa engkau tampil
beda yang akan bisa mendatangkan kesomobongan dalam hatimu". Dan
lontaran-lontaran lainnya yang merupakan bisikan Iblis kepada mereka.
Kepada mereka kita
katakan, "Jangalah kalian mengaku sebagai seorang muslim, karena itu akan
mendatangkan riyaa', katakanlah saja jika ada yang bertanya tentang agama
kalian, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang munafik". Karena
sesungguhnya jawaban ini lebih jauh dari riyaa' –sebagaimana keyakinan kalian-"
والله أعلمُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar